Festival Media Selat Malaka Dorong Jurnalisme Kelautan Berbasis Data dan Investigasi

by
20/09/2026
Peserta mengikuti lokakarya “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas” dalam Festival Media Selat Malaka 2026 di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026). Lokakarya membahas penelusuran data, aktivitas kapal, isu pesisir, serta pentingnya kolaborasi jurnalis dan akademisi dalam mengawal persoalan kelautan. Foto: AJI Indonesia

Batam, — Laut tidak hanya berbicara tentang ikan dan aktivitas penangkapan. Di balik hamparan perairan, terdapat persoalan lingkungan, ekonomi, kesehatan, masyarakat pesisir, industri, transportasi, hingga aktivitas kapal yang membutuhkan penelusuran jurnalistik lebih mendalam.

Karena itu, jurnalis didorong untuk memperkuat liputan isu kelautan melalui pendekatan berbasis data, penelusuran dokumen, sumber terbuka, serta keterlibatan beragam narasumber.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam lokakarya Festival Media Selat Malaka 2026 bertema “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas” di lantai dua Gedung Technopreneur Politeknik Negeri Batam, Sabtu, 19 September 2026.

Lokakarya diikuti oleh 21 peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi. Diskusi dipandu Ketua AJI Ambon, R. Khairiyah, dengan menghadirkan pemateri dari Jaring.id, Abdus Somad, dan Mongabay Indonesia, Asad Asnawi.

Selain aspek jurnalistik, diskusi juga menghadirkan perspektif akademik dari Universitas Ibnu Sina, Hengky Oktavrizal, yang membahas keterkaitan isu kelautan dengan kesehatan masyarakat pesisir dan wilayah kepulauan.

Pemateri Jaring.id, Abdus Somad, mengajak peserta melihat laut sebagai ruang yang membutuhkan kerja jurnalistik berbasis penelusuran.

Menurut Abdus, liputan sektor kelautan dan perikanan dapat dimulai dari berbagai sumber, mulai dari dokumen, sumber terbuka (open source), media sosial, hingga platform pemantauan aktivitas kapal.

Ia menjelaskan bahwa wilayah pengelolaan perikanan Indonesia terbagi dalam sejumlah wilayah dengan karakteristik sumber daya dan aktivitas penangkapan yang berbeda. Pembagian tersebut antara lain menjadi bagian dari pengaturan perizinan dan penggunaan alat tangkap.

Ia mencontohkan penangkapan tuna menggunakan longline atau rawai yang ditempatkan di wilayah perairan tertentu. Sementara itu, karakteristik perairan Natuna yang relatif dalam membuat jenis ikan yang ditemukan memiliki perbedaan dengan wilayah lainnya.

Bagi Abdus, karakteristik geografis dan ekologis tersebut penting dipahami jurnalis sebelum memulai penelusuran.

Ia kemudian membagikan pengalamannya melakukan liputan investigasi di laut selama hampir dua pekan. Dalam peliputan itu, ia mengikuti aktivitas kapal dan mengamati berbagai peristiwa yang berlangsung di perairan.

Salah satu persoalan yang ditelusurinya adalah keberadaan kapal eks-asing yang kembali beroperasi di perairan Indonesia.

Menurut Abdus, keberadaan kapal semacam itu pernah dikaitkan dengan sejumlah persoalan, mulai dari perpajakan, penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing), kerja paksa (forced labour), alih muatan di tengah laut (transshipment), hingga kepatuhan terhadap regulasi Indonesia.

Penelusuran, kata dia, dapat dilakukan dengan mengikuti jejak kepemilikan kapal dan perusahaan. Jurnalis juga dapat melihat hubungan antara perusahaan, pemilik kapal, serta orang-orang yang berada di balik aktivitas bisnis tersebut.

“Penelusuran dokumen dan juga penelusuran setiap orang, salah satunya melihat siapa yang punya, perusahaan siapa yang punya, koleganya siapa,” kata Abdus.

Ketika dokumen perizinan sulit diperoleh, jurnalis dapat mencari sumber alternatif, termasuk melalui asosiasi dan pelaku usaha di pelabuhan.

Sumber terbuka dan media sosial juga dapat digunakan sebagai petunjuk awal. Informasi mengenai aktivitas kapal maupun awaknya dapat membantu jurnalis menentukan arah penelusuran sebelum melakukan verifikasi lebih lanjut.

Liputan Laut Butuh Perhitungan Risiko

Menelusuri persoalan kelautan bukan pekerjaan yang hanya membutuhkan data. Abdus mengingatkan jurnalis mengenai aspek keselamatan selama melakukan peliputan di laut.

Menurut dia, kondisi peliputan di laut memiliki risiko berbeda dibandingkan di daratan. Akses terhadap fasilitas kesehatan maupun tempat berlindung jauh lebih terbatas.

“Kalau di laut itu enggak ada rumah sakit. Enggak ada juga pohon untuk berteduh,” ujarnya.

Karena itu, keselamatan harus menjadi bagian dari perencanaan sebelum jurnalis turun ke lapangan.

Abdus juga memperkenalkan sejumlah platform terbuka yang dapat membantu penelusuran aktivitas kapal, di antaranya Global Fishing Watch dan MarineTraffic.

Festival Media Selat Malaka, jurnalisme kelautan, isu kelautan, laut, pesisir, perikanan, Batam, Kepulauan Riau, investigasi, Jaring.id, Mongabay Indonesia, Global Fishing Watch, MarineTraffic, kapal asing, illegal fishing, masyarakat pesisir, kesehatan masyarakat, perubahan iklim

Laut Tidak Berdiri Sendiri

Sementara itu, pemateri dari Mongabay Indonesia, Asad Asnawi, mendorong media memperluas cara pandang dalam melihat isu kelautan.

Menurut Asad, persoalan di laut tidak berdiri sendiri. Banyak persoalan kelautan memiliki hubungan dengan aktivitas di daratan, lingkungan pesisir, bahkan aktivitas lintas negara.

Karena itu, media tidak cukup hanya memberitakan laut ketika terjadi sebuah peristiwa, misalnya penangkapan kapal.

Jurnalis, kata Asad, perlu membangun liputan yang lebih komprehensif mengenai bentang laut, kondisi lingkungan, serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

Pendekatan tersebut juga membutuhkan keragaman narasumber. Isu kelautan dapat dikembangkan dari sebuah peristiwa menjadi laporan yang menggali konteks, penyebab, dampak, serta pihak-pihak yang berkepentingan.

Dengan pendekatan tersebut, laut tidak sekadar menjadi latar sebuah peristiwa, tetapi menjadi ruang hidup yang memiliki persoalan ekologis, ekonomi, sosial, dan politik.

Festival Media Selat Malaka, jurnalisme kelautan, isu kelautan, laut, pesisir, perikanan, Batam, Kepulauan Riau, investigasi, Jaring.id, Mongabay Indonesia, Global Fishing Watch, MarineTraffic, kapal asing, illegal fishing, masyarakat pesisir, kesehatan masyarakat, perubahan iklim

Kepri dan Tantangan Masyarakat Kepulauan

Perspektif lain datang dari akademisi Universitas Ibnu Sina, Hengky Oktavrizal.

Hengky mengatakan Kepulauan Riau memiliki potensi kelautan yang besar, tetapi karakter wilayah kepulauan juga menghadirkan persoalan akses bagi masyarakat.

Batam, kata dia, memiliki ratusan pulau. Kondisi geografis tersebut membuat akses terhadap berbagai layanan dasar, termasuk kesehatan dan pendidikan, menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Dalam konteks tersebut, Hengky menilai jurnalis memiliki peran penting dalam menerjemahkan informasi akademik kepada masyarakat.

Hasil penelitian dan artikel ilmiah, menurut dia, tidak selalu mudah dipahami oleh masyarakat umum. Karena itu, media memiliki peran untuk mengubah informasi tersebut menjadi pengetahuan yang lebih komunikatif dan mudah dipahami.

“Yang namanya jurnal ataupun artikel ilmiah, mungkin tidak semua orang paham masalah data, masalah, dan bentuk sajian data. Tapi, inilah peran teman-teman jurnalis untuk menerjemahkan itu,” ujar Hengky.

Hengky yang berlatar belakang akademisi kesehatan masyarakat juga memperluas perspektif mengenai isu kelautan.

Menurut dia, kesehatan masyarakat pesisir dan kepulauan tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat mereka hidup.

Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya penyakit, tetapi juga mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial.

Karena itu, persoalan masyarakat pesisir dapat ditelusuri melalui berbagai aspek, antara lain perilaku dan gaya hidup, kondisi lingkungan, ketersediaan pangan dan air bersih, kondisi sosial-ekonomi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Dalam perspektif yang lebih luas, isu kelautan juga mencakup ekosistem laut dan pesisir, kualitas air laut, perikanan dan sumber pangan, terumbu karang, aktivitas industri dan transportasi laut, masyarakat pesisir dan pulau-pulau, pencemaran, hingga perubahan iklim.

“Kalau bahas tentang isu kelautan, kita lihat lagi Provinsi Kepulauan Riau itu hampir 96 persennya adalah laut,” kata Hengky.

Luasnya wilayah laut tersebut, menurut dia, membuat isu kelautan relevan untuk terus dikaji dan diberitakan secara kolaboratif.

Mendorong Kolaborasi

Dalam sesi diskusi, peserta juga membahas proses peliputan isu kelautan, pengembangan pertanyaan investigasi, serta sejumlah persoalan di Kepulauan Riau, termasuk isu pasir dan aktivitas kapal asing.

Lokakarya tersebut menjadi ruang pertemuan antara perspektif jurnalistik dan akademik dalam membaca persoalan wilayah pesisir dan kepulauan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didorong untuk tidak berhenti pada peristiwa. Liputan kelautan perlu bergerak lebih jauh dengan menggali data, menelusuri dokumen, memahami konteks ekologis, mencari dampak terhadap masyarakat, serta menghubungkan satu persoalan dengan persoalan lainnya.

Sebab, laut bukan ruang yang terpisah dari kehidupan manusia. Apa yang terjadi di laut dapat berujung pada persoalan pangan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat di daratan.

Karena itu, mengawal laut melalui karya jurnalistik bukan sekadar memberitakan apa yang terjadi di permukaan. Jurnalisme dituntut untuk menyelami persoalan lebih dalam untuk menjelaskan siapa yang terdampak, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana perubahan terjadi, dan apa konsekuensinya bagi masyarakat serta lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.


error: Content is protected !!