Siapa yang tidak ingin menjadi produktif?
Bagi sebagian orang, produktivitas berarti bekerja dengan giat, membaca buku bagus, membangun lingkungan sosial yang sehat, berdiskusi dengan teman, menulis artikel, berkomunitas, atau mengikuti berbagai pelatihan. Bagi saya, itulah gambaran sederhana tentang produktivitas. Namun, definisi mengenai produktivitas tentu bisa berbeda-beda.
Bagi influencer trading Timothy Roland, misalnya, produktivitas berarti bangun lebih pagi, mengurangi tidur siang, menanam saham, bermain kripto dan forex, tidak perlu nge-gym, tidak burnout, bahkan tidak perlu memikirkan mental health. Sementara bagi mantan Presiden Joko Widodo, produktivitas kerap diringkas dalam slogan: kerja, kerja, kerja.
Di media sosial, saya merasakan dorongan yang sama: bagaimana seharusnya menjadi produktif?
Saya melihat berbagai pola hidup yang ditawarkan influencer, mulai dari gaya hidup politisi hingga orang-orang kaya yang memamerkan pencapaian mereka. Media sosial seolah telah berubah menjadi etalase produktivitas. Setiap orang memperlihatkan capaian hidupnya, dari yang kecil hingga besar, dari sesuatu yang biasa-biasa saja hingga yang luar biasa dan kemudian dipuji-puji.
Saya pun membayangkan: bagaimana jika berada dalam posisi mereka?
Namun, sampai pada titik tertentu, saya menemukan dua hal yang membuat saya mulai mempertanyakan dorongan tersebut.
Pertama, sebuah kalimat dalam salah satu unggahan Instagram berbunyi: “Mekarlah dengan warna yang kamu punya, dengan luka yang pernah kau simpan, dengan segala hal yang membuatmu menjadi diri sendiri.” Di platform X, saya menemukan kalimat lain: “Capek sih memang capek, but giving up is never an option for me.”
Kedua, menjadi produktif ternyata sering menuntut tubuh dan pikiran bekerja semakin keras. Keduanya kemudian mudah terjebak dalam kubangan ilusi media sosial: ingin menjadi begini dan begitu, seolah-olah semua yang ditampilkan di layar merupakan jawaban atas keresahan hidup.
Dari sinilah saya mulai bertanya: apakah produktivitas benar-benar membuat kita menjadi diri sendiri, atau justru membuat kita semakin jauh dari diri sendiri?
Subjek yang Lelah

Anggapan bahwa produktivitas selalu membawa kehidupan yang lebih baik justru ditampar oleh satu kenyataan: semuanya bisa menjadi semu.
Setelah membaca buku tipis The Burnout Society, saya memahami mengapa Byung-Chul Han menaruh perhatian besar pada masyarakat yang terobsesi dengan pencapaian. Bagi Han, manusia kontemporer hidup dalam apa yang ia sebut sebagai achievement society atau masyarakat prestasi. Penyakit khas masyarakat ini bukan semata-mata muncul karena larangan atau tekanan dari luar, melainkan karena individu terus mendorong dirinya sendiri untuk berprestasi.
Han membandingkan kondisi tersebut dengan masyarakat pada apa yang ia sebut sebagai zaman imunologis. Pada masa itu, tubuh maupun masyarakat bekerja melalui pembedaan yang tegas antara “diri sendiri” dan “Yang Lain” (the Other). Sesuatu yang dianggap asing atau berbahaya diperlakukan sebagai ancaman yang harus dilawan.
Dalam kerangka imunologis tersebut, “Yang Lain” hadir sebagai sesuatu yang berbeda dari diri sendiri. Tubuh mengenalinya sebagai sesuatu yang asing dan kemudian membangun mekanisme pertahanan. Han menggunakan logika ini untuk menjelaskan bagaimana masyarakat masa lalu juga membangun batas antara yang dianggap “kita” dan “mereka”.
Namun, menurut Han, masyarakat kontemporer mengalami perubahan. Kita tidak lagi terutama hidup dalam masyarakat yang didominasi larangan dan batasan eksternal, melainkan masyarakat yang mendorong individu untuk terus mengatakan “bisa”.
Jika dahulu manusia lebih banyak dikontrol oleh institusi seperti rumah sakit, penjara, gereja, atau sekolah, kini kontrol tersebut semakin masuk ke dalam diri. Individu merasa dirinya bebas, otonom, dan memiliki kemampuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Tetapi kebebasan itu sekaligus membawa tuntutan untuk terus mengoptimalkan diri.
Kita harus produktif. Kita harus kreatif. Kita harus berkembang. Kita harus menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Masalahnya, tuntutan tersebut dapat berubah menjadi tekanan yang tidak pernah selesai.
Han menunjukkan bahwa masyarakat prestasi menghasilkan bentuk kelelahan baru. Depresi, gangguan perhatian, kelelahan, dan berbagai gangguan psikologis muncul bukan semata-mata karena adanya larangan, tetapi akibat kelebihan kepositifan—dorongan terus-menerus untuk mampu, berhasil, dan berprestasi.
Dengan kata lain, kita tidak lagi hanya dieksploitasi oleh orang lain. Kita mulai mengeksploitasi diri sendiri.
Kita menjadi pekerja sekaligus pengawas bagi diri sendiri.
Media Sosial dan Ilusi Menjadi Lebih Baik
Media sosial memperkuat kondisi tersebut.
Saya menyadur sebuah unggahan Instagram sebagai contoh bagaimana sebagian dari kita dibentuk untuk terus menginginkan sesuatu yang seragam. “Firasatku keknya 2027 bakal banyak banget rezeki, bisa renovasi rumah, punya uang tabungan, bisa beli mobil impian (kirim ini ke dirimu sendiri),” tulis akun Folkative.
Unggahan tersebut dikomentari lebih dari dua ribu pengguna. Banyak yang mengamini impian yang hampir sama.
“Doa yang kenceng semua,” tulis salah satu komentator.
Di unggahan lain, influencer motivator @SuaraBerkelas Bilalfaranov menulis bahwa seseorang yang tidak lahir dengan privilege harta warisan harus bekerja dua kali lebih gigih, berdoa dua kali lebih sering, membangun jaringan dua kali lebih pintar, memahami lebih dalam, membaca peluang lebih tajam, belajar lebih serius, dan mengeksplorasi lebih aktif.
Kalimat-kalimat semacam itu terdengar memotivasi.
Namun, bukankah kita perlu bertanya lebih jauh?
Mengapa harus selalu dua kali lebih keras?
Apakah seseorang dapat disebut sebagai subjek prestasi jika impiannya justru ditentukan oleh konten media sosial? Apakah bekerja semakin keras selalu merupakan ukuran keberhasilan? Bukankah dorongan untuk terus mengoptimalkan diri juga dapat berubah menjadi bentuk eksploitasi terhadap diri sendiri?
Dan yang lebih mendasar: apakah kehidupan ideal selalu harus diukur dari kepemilikan materi yang semakin banyak?
Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari standar tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita kembali pada kritik Han terhadap masyarakat prestasi. Di balik kebebasan yang tampak luas, terdapat mekanisme sosial dan ekonomi yang mendorong individu untuk terus berproduksi, berkompetisi, dan mengoptimalkan dirinya.
Media sosial kemudian menjadi ruang yang sangat subur bagi mekanisme tersebut.
Kita melihat kehidupan orang lain. Kita membandingkan diri. Kita merasa tertinggal. Kita kemudian bekerja lebih keras untuk mengejar standar yang sebenarnya tidak pernah kita tentukan sendiri.
Pada akhirnya, kita bukan hanya ingin hidup.
Kita ingin terlihat berhasil dalam hidup.
Merusak Pola

Di titik inilah pemikiran Max Stirner menarik untuk dipertemukan dengan Han.
Stirner, melalui The Unique and Its Property, mengkritik berbagai gagasan abstrak yang dapat berubah menjadi kekuatan yang menguasai individu. Ia menggunakan istilah spook untuk menunjuk gagasan atau abstraksi yang seolah-olah memiliki kehidupan sendiri dan kemudian menuntut manusia untuk tunduk kepadanya.
Kebebasan, moralitas, kemanusiaan, negara, kewajiban, bahkan berbagai gagasan tentang “kebaikan” dapat berubah menjadi sesuatu yang kita sembah tanpa lagi mempertanyakan apakah gagasan tersebut benar-benar berasal dari kehendak kita sendiri.
Dalam konteks masyarakat prestasi, “produktif”, “sukses”, “kaya”, “cantik”, “berkembang”, dan “menjadi versi terbaik diri sendiri” juga berpotensi menjadi spook.
Kita mengejar gagasan-gagasan tersebut karena merasa memang seharusnya begitu.
Bukan karena kita benar-benar menginginkannya.
Di sinilah kritik Stirner menjadi menarik. Pertanyaannya bukan sekadar: apakah kita bebas?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bebas dari apa, dan untuk siapa kebebasan itu kita jalankan?
Bagi Stirner, kebebasan tidak cukup jika hanya berarti melepaskan diri dari sesuatu. Ia memperkenalkan gagasan ownness atau kepemilikan atas diri sendiri sebagai bentuk relasi yang lebih mendasar dengan kebebasan. Seseorang bukan sekadar bebas dari kekuasaan tertentu, tetapi menjadi pemilik atas dirinya sendiri.
Dengan demikian, menjadi “Yang Unik” (the Unique) bukan sekadar tampil berbeda dari orang lain. Ia adalah usaha untuk tidak membiarkan diri sepenuhnya didefinisikan oleh gagasan-gagasan abstrak yang datang dari luar.
Dalam masyarakat prestasi, hal ini menjadi penting.
Sebab, kita mungkin merasa sedang menjalani kehidupan yang bebas, padahal seluruh pilihan kita telah ditentukan oleh standar yang sama: bekerja lebih keras, menghasilkan lebih banyak, membeli lebih banyak, tampil lebih baik, memiliki lebih banyak pengikut, dan terus memperlihatkan pencapaian.
Kita menjadi unik dengan cara yang seragam.
Bukankah itu sebuah paradoks?
Menjadi “Yang Lain”
Jika Han membantu kita memahami bagaimana masyarakat prestasi menghasilkan kelelahan melalui kelebihan kepositifan, Stirner membantu kita mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan keinginan kita.
Keduanya memang berasal dari tradisi pemikiran yang berbeda. Namun, keduanya dapat dipertemukan dalam satu pertanyaan: bagaimana manusia mempertahankan dirinya ketika masyarakat terus menawarkan definisi tentang bagaimana seharusnya ia hidup?
Han mengingatkan kita tentang hilangnya “Yang Lain”. Dalam masyarakat kontemporer, perbedaan dan keberlainan semakin mudah diserap menjadi sesuatu yang sama. “Yang asing” tidak selalu lagi dilawan; ia justru dikonsumsi, dikemas, dan dijadikan bagian dari pasar.
Sementara Stirner mengingatkan kita untuk tidak menyerahkan diri kepada gagasan-gagasan abstrak yang kemudian menguasai kehidupan kita.
Dari sini, menjadi “Yang Unik” bukan berarti menolak bekerja. Bukan berarti menjadi egois dalam pengertian sempit atau tidak peduli kepada orang lain.
Sebaliknya, ia dapat dibaca sebagai keberanian untuk bertanya kembali: apa yang sebenarnya saya inginkan?
Apakah saya ingin bekerja keras karena memang pekerjaan itu bermakna bagi saya?
Apakah saya ingin memiliki rumah, mobil, tabungan, atau kekayaan karena memang saya membutuhkannya?
Ataukah saya menginginkannya karena media sosial terus menunjukkan bahwa itulah ukuran kehidupan yang berhasil?
Pertanyaan semacam ini penting karena tidak semua keinginan yang kita miliki benar-benar lahir dari diri kita sendiri.
Sebagian mungkin ditanamkan oleh keluarga. Sebagian oleh lingkungan. Sebagian oleh pasar. Dan semakin banyak yang dibentuk oleh algoritma media sosial.
Tidak Harus Menjadi Versi Terbaik
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terus-menerus menjadi “versi terbaik” dari diri sendiri.
Barangkali kita hanya perlu menjadi diri sendiri.
Di balik berbagai kalimat motivasi yang mendorong kita untuk terus produktif, ada baiknya kita menyediakan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk memastikan bahwa hidup yang sedang kita jalani memang benar-benar hidup yang kita pilih.
Kita tetap dapat bekerja keras tanpa menjadi budak produktivitas.
Kita tetap dapat memiliki ambisi tanpa membiarkan ambisi menguasai seluruh hidup.
Kita tetap dapat berkembang tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Dan kita dapat menggunakan media sosial tanpa membiarkan media sosial menentukan siapa diri kita.
Menjadi “yang unik” bukan berarti menolak dunia. Ia adalah usaha untuk mengambil kembali kepemilikan atas diri sendiri. Dalam pengertian itu, kritik Stirner terhadap spook menjadi relevan ketika kita berhadapan dengan berbagai standar kehidupan yang diproduksi dan disebarkan tanpa henti.
Sementara Han mengingatkan bahwa tidak semua dorongan untuk menjadi lebih baik berakhir pada kehidupan yang lebih baik.

Barangkali, justru sesekali kita perlu berani berkata: saya tidak harus menjadi seperti mereka.
Saya tidak harus selalu produktif.
Saya tidak harus selalu berhasil.
Saya tidak harus selalu terlihat baik.
Saya hanya perlu memastikan bahwa kehidupan yang saya jalani masih menjadi milik saya sendiri.
Sebab, ketika produktivitas berubah menjadi kewajiban untuk terus membuktikan diri, kebebasan dapat berubah menjadi penjara. Dan ketika semua orang dipaksa menjadi “versi terbaik” menurut ukuran yang sama, mungkin tindakan paling berani justru bukan menjadi lebih produktif, melainkan berani menjadi berbeda.