Ketika Anak Muda Maluku Menjaga Identitas Lewat Hentakan Tifa dan Tari

by
22/06/2026
Caption: Pamflet Lomba Tari Kreasi Budaya Maluku, Foto: Ist

Ambon, — Di tengah derasnya arus modernisasi dan penetrasi budaya global, sekelompok anak muda di Maluku memilih merawat identitasnya dengan cara yang sederhana namun sarat makna: menari.

Dentuman tifa dan gerak tari yang memenuhi Tribun Lapangan Merdeka, Ambon, Sabtu (20/6/2026), menjadi penanda bahwa generasi muda Maluku belum kehilangan akar budayanya. Melalui Lomba Tari Kreasi Budaya Maluku 2026, ratusan pegiat seni menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang harus terus dihidupkan di tengah perubahan zaman.

Kegiatan yang digagas Komunitas Kalesang Maluku itu mengusung tema “Mengakar pada Tradisi, Bergerak Menyapa Zaman”. Bagi para penyelenggara, lomba tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan sekaligus merawat nilai-nilai budaya Maluku agar tetap relevan di era kontemporer.

Ketua Komunitas Kalesang Maluku, Vigel Faubun, mengatakan kegiatan tersebut telah memasuki tahun ketiga pelaksanaannya dan dirancang menjadi agenda tahunan.

“Kegiatan ini sudah memasuki pelaksanaan yang ketiga. Ke depan, kami berencana menghadirkan piala bergilir agar semangat kompetisi dan kecintaan terhadap budaya terus terjaga,” kata Vigel.

Di balik semangat yang terus dijaga, Komunitas Kalesang Maluku masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan anggaran.

Menurut Vigel, antusiasme generasi muda dari berbagai daerah di Maluku untuk mengikuti lomba sebenarnya cukup tinggi. Namun, keterbatasan biaya membuat pelaksanaan kegiatan tahun ini lebih banyak terpusat di Kota Ambon.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, peserta datang dari sejumlah daerah seperti Kabupaten Buru Selatan dan Kepulauan Tanimbar. Namun, pada tahun ini, hanya dua kelompok dari Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) yang mampu berpartisipasi.

“Dua event sebelumnya peserta datang dari Buru Selatan dan Tanimbar. Tetapi karena kondisi defisit anggaran, mereka belum bisa ikut tahun ini,” ujarnya.

Pelaksanaan lomba tahun ini dapat berlangsung berkat dukungan Program Bantuan Perseorangan Pemerhati Budaya Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Maluku.

Bagi komunitas tersebut, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga keberlangsungan kegiatan, tetapi memastikan generasi muda Maluku tidak tercerabut dari akar budayanya akibat minimnya ruang ekspresi dan dukungan terhadap aktivitas kesenian.

 

Menjaga Marwah Budaya

Untuk menjaga kualitas kompetisi, proses penilaian dilakukan oleh sejumlah praktisi seni dan budaya Maluku, yakni koreografer Marchel Pasanea, pendiri Sanggar Tamariska Ellen Ferdinandus, serta guru Seni Budaya SMA Kristen Passo, Jon Mayaut.

Berdasarkan keputusan dewan juri, Sanggar Kamboti berhasil meraih Juara I, disusul SMA Kristen Rehobot Ambon sebagai Juara II dan Sanggar Malori pada posisi ketiga.

Sementara itu, penghargaan Harapan I diraih Sanggar SBB, Harapan II SMA Negeri 1 Ambon, dan Harapan III Cakadidi Crew.

Bagi Komunitas Kalesang Maluku, kegiatan semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan menjadi pemantik lahirnya ruang-ruang kreatif serupa di berbagai daerah di Maluku.

“Budaya yang terawat adalah identitas yang bermartabat,” ujar Vigel.

Menurut dia, menjaga tradisi melalui seni tari bukan sekadar urusan estetika, melainkan bagian dari upaya memastikan generasi mendatang tetap mengenali jati dirinya di tengah dunia yang terus berubah.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!