Membaca Sejarah dari Koran Tua: Pandangan Letkol KNIL tentang Perang di Maluku

Mampukah orang Ambon bertahan di Seram? Ketika Letnan Kolonel KNIL Membayangkan Benteng Terakhir RMS
02/06/2026
Artikel pribadi A.M. SIERVELT, Luit. Kol inf KNIL yang dimuat dalam media milik yayasan Door de Eeuwen Trouw. Sumber: Yayasan Door de Eeuwen Trouw.

Maluku, – Pada sebuah halaman koran tua berbahasa Belanda yang mulai menguning dimakan usia, seorang perwira kolonial Belanda menuliskan keyakinannya tentang masa depan Republik Maluku Selatan (RMS). Judulnya provokatif sekaligus penuh harapan: Kunnen de Ambonezen het op Ceram volhouden?—Mampukah Orang Ambon Bertahan di Ceram?

Tulisan itu dimuat dalam media milik Yayasan Door de Eeuwen Trouw (Setia Sepanjang Zaman), sebuah organisasi pendukung RMS di Belanda pada awal dekade 1950-an. Penulisnya adalah A.M. Sierevelt, seorang Letnan Kolonel Infanteri KNIL purnawirawan yang pernah bertugas bertahun-tahun di Maluku.

Bagi Sierevelt, jawabannya sederhana: ya.

Namun jawaban itu bukan semata-mata didasarkan pada romantisme politik atau simpati terhadap perjuangan RMS. Ia mencoba membangunnya dari pengalaman lapangan selama bertugas di Seram dan Ambon pada masa kolonial.

“Jawaban saya adalah: ya, asalkan mereka memiliki cukup senjata dan amunisi, cukup obat-obatan, serta dipimpin oleh orang yang mereka percayai,” tulis Sierevelt.

Pernyataan itu lahir pada masa ketika konflik antara Republik Indonesia dan RMS masih berlangsung sengit. Setelah proklamasi RMS pada 25 April 1950, pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer untuk mengembalikan wilayah Maluku Selatan ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ambon berhasil direbut pada November 1950, namun perlawanan RMS berlanjut di pedalaman Pulau Seram selama bertahun-tahun.

Seram Sebagai Benteng Alam

Dalam tulisannya, Sierevelt menggambarkan Pulau Seram sebagai benteng alam yang nyaris mustahil ditaklukkan.

Ia menyebut Seram memiliki panjang sekitar 350 kilometer dengan bentang pegunungan yang liar, curam, dan sulit dijangkau. Sebagian besar wilayah barat dan tengah pulau didominasi oleh hutan lebat serta pegunungan yang membentang hingga ke pesisir.

Sebagai mantan perwira patroli yang pernah bertugas di Seram Barat pada 1915–1920, Sierevelt mengklaim mengenal wilayah itu dengan baik. Ia mengaku pernah menjelajahi berbagai pelosok pulau, mempelajari bahasa setempat, dan memahami cara hidup masyarakat di sana.

Dalam pandangannya, kondisi geografis Seram merupakan keuntungan strategis bagi para pejuang RMS.

“Bahkan jika Ambon jatuh, ribuan laki-laki tangguh masih dapat bertahan di Pegunungan Seram sebagai pemburu dan pejuang hutan,” tulisnya.

Ia membayangkan sebuah perang gerilya yang memanfaatkan medan hutan tropis, di mana para pejuang bersembunyi pada siang hari dan melancarkan serangan pada malam hari.

Foto Utama: Presiden ke-2 RMS Chris Soumokil bersama Para Pejuang RMS saat bergerilya di Hutan Seram tahun 1950. (Foto: Istimewa)

Nusa Ina dan Ikatan Ambon-Seram

Menariknya, Sierevelt tidak hanya berbicara soal strategi militer. Ia juga mencoba menjelaskan hubungan historis dan kultural antara Ambon dan Seram.

Ia menyebut masyarakat Ambon mengenal Seram sebagai Nusa Ina atau “Pulau Ibu”, sebuah konsep yang hingga kini masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat Maluku.

Menurutnya, penduduk Ambon, Haruku, Saparua, Nusalaut, Seram, dan Buru memiliki keterkaitan genealogis dan budaya yang kuat.

Ia menunjuk kesamaan nama-nama keluarga, bahasa, hingga tradisi sebagai bukti hubungan tersebut.

Dalam narasinya, Seram bukan sekadar wilayah geografis, melainkan tanah asal yang memiliki kedudukan simbolik bagi masyarakat Maluku.

Pandangan ini menunjukkan bagaimana identitas budaya Maluku turut menjadi bagian dari argumen politik yang dibangun oleh para pendukung RMS pada masa itu.

Ketakutan terhadap Republik Indonesia

Tulisan Sierevelt juga memperlihatkan ketegangan politik yang sangat kuat pada awal 1950-an.

Ia berulang kali menyebut pemerintah Indonesia dengan istilah “Djodja”, merujuk pada Yogyakarta yang saat itu menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia sebelum Jakarta kembali menjadi ibu kota.

Dalam tulisannya, ia menggambarkan pasukan Indonesia sebagai kekuatan yang akan kesulitan mempertahankan operasi militer di Seram.

Ia bahkan menyerang sejumlah tokoh politik dan pejabat yang dianggap mendukung integrasi Maluku ke Indonesia, termasuk Gubernur Maluku pertama, Johannes Latuharhary, serta perwira militer Alexander Evert Kawilarang.

Bahasa yang digunakannya menunjukkan bagaimana konflik Maluku saat itu tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga dalam perang propaganda dan opini publik.

Cermin Zaman yang Bergolak

Bagi sejarawan, tulisan seperti karya Sierevelt bukan sekadar catatan pribadi seorang mantan perwira kolonial. Ia merupakan dokumen penting untuk memahami cara pandang sebagian kalangan Belanda dan pendukung RMS terhadap konflik Maluku pada awal masa kemerdekaan Indonesia.

Artikel itu memperlihatkan bagaimana Pulau Seram diposisikan sebagai simbol harapan terakhir perjuangan RMS setelah jatuhnya Ambon ke tangan pemerintah Indonesia.

Di saat yang sama, tulisan tersebut juga mencerminkan kuatnya pengaruh pengalaman kolonial dalam membentuk persepsi politik para mantan pejabat KNIL terhadap Indonesia yang baru merdeka.

Meski banyak prediksi Sierevelt akhirnya tidak terbukti, satu hal yang menarik dari tulisan itu adalah pengakuannya terhadap kekuatan sosial dan budaya masyarakat Maluku.

Di balik retorika politiknya, ia memahami bahwa hubungan Ambon dan Seram tidak hanya dibangun oleh batas administrasi, tetapi juga oleh sejarah panjang, bahasa, budaya, dan memori kolektif yang telah hidup jauh sebelum lahirnya negara modern.

Karena itu, lebih dari tujuh dekade setelah tulisan tersebut diterbitkan, artikel “Mampukah Orang Ambon Bertahan di Seram?” tetap menjadi salah satu artefak sejarah yang menarik untuk dibaca kembali. Bukan untuk menghidupkan kembali konflik lama, melainkan untuk memahami bagaimana perang, identitas, dan ingatan kolektif pernah membentuk perjalanan sejarah Maluku pada salah satu masa paling menentukan dalam sejarah Indonesia.

error: Content is protected !!