OPINI: Sagu dan Masa Depan Seram Bagian Timur

Oleh: Babang F. Sohilauw
01/06/2026
Dua petani sagu di Kabupaten Seram Timur terlihat melakukan proses olahan untuk mendapatkan sari pati sagu secara tradisional. Foto: Ist

Seram Bagian Timur, – Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan ketergantungan Indonesia terhadap komoditas pangan tertentu, Kabupaten Seram Bagian Timur sesungguhnya menyimpan sebuah jawaban yang telah diwariskan oleh leluhur selama ratusan tahun: sagu.

Bagi masyarakat Maluku, khususnya Seram Bagian Timur, sagu bukan sekadar makanan pokok. Sagu adalah identitas budaya, penyangga kehidupan, sekaligus simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dari Dihil hingga Pulau Teor, pohon-pohon sagu tumbuh subur dan menjadi bagian dari lanskap kehidupan masyarakat.

Ironisnya, di tengah potensi yang begitu besar, pemanfaatan sagu masih jauh dari optimal. Data menunjukkan Seram Bagian Timur memiliki sekitar 34.723 hektar lahan sagu, terbesar di Provinsi Maluku. Namun, hanya sebagian kecil yang dikelola secara produktif. Padahal, jika dikelola secara modern dan berkelanjutan, sagu dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Saat ini dunia sedang mencari sumber pangan alternatif yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Sagu memiliki keunggulan tersebut. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan rawa, membutuhkan perawatan relatif rendah, serta memiliki kemampuan menyimpan karbon yang tinggi. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, sagu bukan hanya sumber pangan, tetapi juga benteng ekologis.

Peta penyebaran pohon sagu di wilayah Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur. Foto: Ist

Karena itu, gagasan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur untuk mendorong hilirisasi sagu menjadi Program Strategis Nasional patut mendapat dukungan luas. Hilirisasi akan membuka peluang lahirnya industri pengolahan sagu, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, memperkuat UMKM, hingga mendorong investasi di daerah.

Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya membangun pabrik atau memperluas produksi. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem ekonomi sagu yang berpihak kepada masyarakat adat, petani, perempuan pengolah sagu, dan generasi muda. Hilirisasi harus memastikan nilai tambah tidak keluar dari daerah, tetapi kembali kepada masyarakat yang selama ini menjaga hutan-hutan sagu.

Seorang petani terlihat sedang melakukan penebangan Pohon sagu secara tradisional di hutan Seram Timur.

Sagu adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan Seram Bagian Timur. Jika dikelola dengan baik, sagu tidak hanya menghidupi masyarakat lokal, tetapi juga dapat menjadi kontribusi nyata Maluku bagi ketahanan pangan Indonesia.

Sudah saatnya Indonesia melihat timur, dan melihat sagu sebagai salah satu jawaban atas tantangan masa depan.

Tulisan Opini ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya tentang “Sagu, Harapan Baru Seram Bagian Timur: Dari Pangan Lokal Menuju Motor Penggerak Ekonomi Daerah
error: Content is protected !!