Sepenggal Kisah: Ketika Jepang Tak Mampu Mengoperasikan Kilang Minyak Palembang

by
14/09/2026
JM Pattiasona , 15 September 1912 - 11 September 2000
Oleh: Dipl.-Ök. Engelina Pattiasina

Pada akhir Juli 2026, atas inisiatif pihak Asahi TV Jepang, saya dihubungi untuk wawancara mengenai pengelolaan minyak di Sumatera Selatan pada era pendudukan Jepang. Wawancara tersebut bertepatan dengan peringatan sejarah kedatangan Jepang di Indonesia.

Kru Asahi TV perwakilan Bangkok kemudian datang ke Jakarta untuk mewawancarai saya pada 6 Agustus 2026, sebelum melanjutkan liputan ke Palembang. Hasil wawancara tersebut telah ditayangkan pada 14 Agustus 2026 melalui ANNnewsCH, salah satu kanal berita milik Asahi TV Jepang.

Tentu, saya belum lahir ketika Jepang datang dan berada di Indonesia. Namun, tema wawancara tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan ayah saya, almarhum Brigjen J.M. Pattiasina, yang merupakan teknisi kilang pada zaman Belanda.

Ceritanya bermula ketika kru Asahi TV menemukan nama J.M. Pattiasina dalam sejumlah literatur berbahasa Jepang yang ditulis oleh orang Jepang yang pernah bertugas di Palembang pada periode 1942–1945. Mereka kemudian tertarik mendalami sosok J.M. Pattiasina dan perannya ketika Jepang masuk ke Palembang untuk menguasai sumber minyak yang sebelumnya berada di bawah pengelolaan Belanda.

Foto Dokumentasi

Berdasarkan berbagai informasi yang saya miliki, pada zaman Belanda terdapat tiga teknisi kilang pribumi di BPM, yakni Pattiasina, Jacob, dan Pane. Ketika tentara Jepang memasuki Palembang, pihak Belanda sengaja merusak kilang agar tidak dapat dimanfaatkan oleh Jepang.

Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah pada fasilitas tersebut, Jepang bahkan menggunakan pasukan payung untuk mendarat di sekitar lokasi kilang. Namun, kerusakan yang ditinggalkan Belanda cukup parah sehingga Jepang tidak dapat langsung mengoperasikan kilang.

Untuk menghindari ancaman Jepang, Pattiasina meninggalkan Palembang menuju Jakarta. Namun, Jepang terus mencarinya karena membutuhkan keahliannya untuk memperbaiki kilang.

Ketika akhirnya ditemukan, Pattiasina menolak membantu Jepang. Penolakan tersebut menyebabkan dirinya mengalami penyiksaan fisik hingga tulang belikatnya patah.

Tidak ada banyak pilihan bagi Pattiasina. Ia akhirnya mengajukan satu syarat: tentara Jepang tidak boleh mengawasinya secara langsung ketika memperbaiki kilang. Syarat tersebut disetujui.

Pattiasina kemudian bersama Jacob, Pane, dan para pekerja lainnya memperbaiki kilang yang rusak. Pada masa Belanda, sebenarnya telah terdapat sekolah teknik minyak di Palembang yang dirintis oleh Sudiro, Pattiasina, dan sejumlah tokoh lainnya.

Perbaikan kilang Sungai Gerong dan Plaju akhirnya berhasil. Kilang kembali beroperasi dan produksi minyak Palembang kemudian menjadi salah satu andalan Jepang untuk memenuhi kebutuhan minyak bagi kepentingan industrinya.

Minyak yang diproduksi dari Plaju dan Sungai Gerong juga dikirim ke berbagai wilayah perang Jepang di kawasan Asia Timur Raya.

 

Mengapa Jepang Tidak Memiliki Teknisi?

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa Jepang sampai harus mencari teknisi pribumi untuk mengoperasikan kilang minyak di Palembang?

Militer Kekaisaran Jepang sebenarnya telah menugaskan kapal Taiyō Maru untuk mengangkut tentara dan warga sipil, termasuk gubernur militer, dokter, staf birokrasi, tenaga pendidik, serta para teknisi yang dibutuhkan untuk mengelola wilayah Asia Tenggara yang telah diduduki.

Di antara penumpangnya terdapat banyak teknisi ladang minyak yang hendak menuju Palembang, Sumatera Selatan. Kapal tersebut juga mengangkut amunisi perang.

Taiyō Maru berangkat dari Jepang menuju Singapura pada 7 Mei 1942 sebagai bagian dari sebuah konvoi yang terdiri atas Yoshino Maru, Mikage Maru, Dover Maru, dan Ryusei Maru. Konvoi tersebut dikawal kapal perang Jepang Peking Maru.

Namun, nasib berkata lain.

Pada 8 Mei 1942, Taiyō Maru terkena torpedo yang ditembakkan kapal selam Amerika Serikat, USS Grenadier. Muatan amunisi di dalam kapal kemudian meledak dan menyebabkan Taiyō Maru tenggelam.

Peristiwa tersebut menyebabkan Jepang kehilangan tenaga teknis yang hendak dikirim ke Sumatera Selatan. Jepang akhirnya terpaksa mencari dan memanfaatkan tenaga teknisi pribumi untuk menghidupkan kembali kilang-kilang minyak yang rusak.

Memang, pascaperang, Jepang membayar pampasan perang. Namun, manfaat dari sejumlah proyek pampasan perang tersebut, menurut saya, pada akhirnya kembali banyak dinikmati Jepang.

Proyek di kawasan Bundaran HI Jakarta, termasuk pembangunan Jembatan Ampera di Palembang, merupakan bagian dari proyek pampasan perang yang menjadi hak Indonesia. Namun, proyek-proyek tersebut kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih banyak dipersepsikan sebagai bentuk bantuan Jepang.

Dengan model seperti itu, manfaat langsung maupun tidak langsung kembali dinikmati Jepang. Pola tersebut kemudian berkembang dan diteruskan Jepang dalam model bantuan luar negerinya.

Siksaan yang Tak Terlupakan

Namun, ada satu cerita yang sangat membekas bagi Pattiasina ketika menghadapi penyiksaan tentara Jepang bersama rekannya, Bafeng.

Bahkan, dalam penyiksaan tersebut, Pattiasina dipaksa meminum air sabun oleh tentara Jepang.

Pengalaman itu tentu bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Karena itu, ketika kekuatan Jepang mulai melemah, Pattiasina dan rekan-rekannya berusaha merebut kembali kilang dari tangan Jepang beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, perjuangan Pattiasina tidak berhenti.

Pada masa Revolusi Fisik, Pattiasina menjadi komandan laskar rakyat yang sebagian besar beranggotakan buruh minyak. Laskar minyak bersama berbagai elemen rakyat lainnya terlibat dalam sejumlah pertempuran di Sumatera Selatan, terutama dalam perjuangan gerilya.

Ketika laskar rakyat kemudian dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pattiasina dipercaya menjadi Komandan Pasukan Genie Pionir. Ia selanjutnya dikirim ke Pangkalan Brandan bersama pasukan teknik untuk memperbaiki sekaligus mengamankan kawasan kilang Pangkalan Brandan dan wilayah sekitarnya.

Selain menjalankan tugas militer, Pattiasina juga pernah menjadi Direktur Permina—cikal bakal Pertamina—yang berdinas di Pangkalan Brandan. Sementara itu, Direktur Utama Permina beserta jajaran manajemennya berkedudukan dan berdinas di Jakarta.

Kebesaran Pertamina hari ini, bagi saya, tidak dapat dilepaskan dari kisah panjang yang bermula dari puing-puing kilang Pangkalan Brandan.

Puing-puing tersebut dirakit kembali dengan cara kanibal untuk menghidupkan fasilitas produksi yang tersisa. Dari sana kemudian lahir salah satu tonggak penting dalam sejarah perminyakan Indonesia, ketika minyak Indonesia untuk pertama kalinya diekspor ke Jepang pada April 1958 dengan menggunakan kapal Shozui Maru.

Kisah ini mungkin hanya sepenggal bagian kecil dari sejarah panjang minyak Indonesia.

Namun, di balik kisah tentang kilang Plaju, Sungai Gerong, Pangkalan Brandan, dan perjalanan Permina menuju Pertamina, terdapat cerita tentang para teknisi pribumi yang bekerja di tengah pergantian kekuasaan, perang, penyiksaan, kehancuran fasilitas, hingga perjuangan mempertahankan sumber daya alam Indonesia.

Sejarah minyak Indonesia bukan hanya sejarah tentang kilang dan produksi. Ia juga merupakan sejarah tentang manusia, pengetahuan, keberanian, dan perjuangan untuk mengambil kembali kendali atas kekayaan negeri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.


error: Content is protected !!