Bedah Buku “Enrique Maluku” di Ambon Hidupkan Kembali Jejak Pengeliling Bumi Pertama Asal Maluku

by
14/07/2026
Caption: Fakta tentang sosok Enrique Maluku yang terungkap saat momentum bedah buku di Kawasan Taman Budaya (Karpan) Ambon, Foto: Ed/titastory.id

Ambon, — Bedah buku Enrique Maluku yang digelar di Taman Budaya (Karpan) Ambon, Selasa (14/7/2026), menjadi ruang untuk mengangkat kembali jejak sejarah Enrique, tokoh yang diyakini sejumlah peneliti sebagai orang pertama asal Maluku yang mengelilingi dunia. Kegiatan yang dipadukan dengan pergelaran seni budaya itu dihadiri oleh ratusan mahasiswa, pelajar, akademisi, pegiat budaya, dan masyarakat.

Buku karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas tersebut membahas kembali posisi Enrique dalam sejarah pelayaran dunia berdasarkan sejumlah dokumen primer abad ke-16. Para pembicara menilai, selama ini narasi sejarah lebih banyak menempatkan para penjelajah Eropa sebagai tokoh utama, sementara kontribusi Enrique belum memperoleh perhatian yang memadai dalam historiografi arus utama.

Caption: Foto bersama Jhan Laratmasse (Stand Komedi Maluku) Peneliti sejarah, Mezack Wakim, Ketua LSM Inspirasi Anak Muda Maluku, Vanesa Lesnussa, Dr. A. Manaf Tubaka dan Akademisi Dr. M. Jen Latuconsina, Foto: Ist

“Peran Enrique tidak hanya sebagai penerjemah, tetapi juga sebagai jembatan diplomasi dan komunikasi pada masa perdagangan rempah-rempah. Tanpa kemampuannya memahami bahasa dan budaya lokal, perjalanan ekspedisi itu akan menghadapi banyak hambatan,” ujar Mezack.

Menurutnya, sejumlah sumber sejarah menyebut Enrique berada dalam rombongan pelayaran Ferdinand Magellan, bersama penulis kronik ekspedisi, Antonio Pigafetta. Dalam perjalanan tersebut, Enrique menjalankan tugas sebagai penerjemah bahasa Melayu yang menjadi lingua franca perdagangan di kawasan Asia Tenggara saat itu.

Diskusi juga mengulas sejumlah dokumen sejarah yang digunakan untuk menelusuri asal-usul Enrique.

Salah satu dokumen yang menjadi rujukan adalah De Moluccis Insulis (1523) karya Maximilianus Transylvanus. Dalam naskah tersebut disebutkan bahwa Magellan memiliki seorang budak yang berasal dari Kepulauan Maluku dan sebelumnya dibeli di Malaka.

Bagi para pembicara, dokumen tersebut menjadi salah satu sumber penting yang memperkuat argumentasi mengenai keterkaitan Enrique dengan Kepulauan Maluku.

Caption: Pertunjukan seni oleh Sanggar Tamariska di Ruang Pertunjukan Taman Budaya, Kawasan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Foto: Ist

Selama ini terdapat sejumlah pandangan berbeda mengenai asal-usul Enrique. Sebagian sejarawan, termasuk Carlos Quirino, mengaitkannya dengan Cebu, Filipina. Namun, para narasumber dalam diskusi menilai sejumlah dokumen primer memberikan perspektif berbeda yang layak terus dikaji dalam penelitian sejarah.

Akademisi Dr. M. Jen Latuconsina mengatakan, kehadiran buku tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan kembali figur Enrique kepada generasi muda Maluku.

“Buku ini mengangkat kembali tokoh yang selama ini kurang dikenal masyarakat. Penyajiannya juga menggunakan bahasa yang lebih naratif sehingga mudah dipahami oleh kalangan muda,” katanya.

 

Maluku dalam Jalur Perdagangan Dunia

Pembicara lainnya, Dr. A. Manaf Tubaka, menjelaskan bahwa pembahasan mengenai Enrique tidak dapat dipisahkan dari posisi strategis Maluku sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dunia pada abad ke-16.

Menurutnya, jauh sebelum kolonialisme berkembang di Nusantara, Maluku telah menjadi simpul perdagangan internasional yang mempertemukan berbagai bangsa.

“Kejayaan perdagangan rempah-rempah telah menempatkan Maluku sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah maritim dunia. Dari konteks itulah keberadaan Enrique perlu dipahami,” ujarnya.

Selain membahas sejarah, forum tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai pembangunan kawasan kepulauan.

Sejumlah pembicara menyinggung pentingnya pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepulauan sebagai instrumen untuk memperkuat keberpihakan negara terhadap daerah-daerah berciri kepulauan seperti Maluku.

Mereka menilai kontribusi Maluku terhadap sejarah dan perekonomian nasional belum sepenuhnya diikuti oleh kebijakan pembangunan yang berpihak pada karakter wilayah kepulauan.

 

Literasi Sejarah Lewat Seni Budaya

Bedah buku itu turut dirangkaikan dengan pertunjukan seni budaya oleh Sanggar Seni Tamariska yang menampilkan tarian tradisional serta lagu-lagu daerah Maluku seperti Toma-Toma, Pohon Sagu, dan Lompat Gaba-Gaba.

Ketua LSM Inspirasi Anak Muda Maluku, Venesia Lesnussa, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi sejarah di kalangan generasi muda.

“Masih banyak tokoh dan peristiwa sejarah Maluku yang belum dikenal luas. Enrique adalah salah satunya. Kami ingin ruang-ruang literasi seperti ini terus dibangun agar masyarakat semakin mengenal sejarahnya sendiri,” kata Venesia.

Menurut dia, pengenalan sejarah lokal penting untuk memperkuat identitas masyarakat sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya Maluku.

Dalam penutupan kegiatan, para peserta juga mengusulkan agar materi mengenai Enrique Maluku dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah-sekolah di Maluku.

Usulan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kajian mengenai sejarah maritim Maluku sekaligus mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru yang berbasis pada sumber-sumber sejarah primer.

Bagi penyelenggara, pengenalan kembali tokoh-tokoh lokal seperti Enrique bukan hanya bertujuan meluruskan narasi sejarah, tetapi juga memperkuat kesadaran generasi muda terhadap posisi Maluku dalam perjalanan sejarah dunia.

 

error: Content is protected !!