Sagu, Harapan Baru Seram Bagian Timur: Dari Pangan Lokal Menuju Motor Penggerak Ekonomi Daerah

31/05/2026
Dua petani sagu di Kabupaten Seram Timur terlihat melakukan proses olahan untuk mendapatkan sari pati sagu secara tradisional. Foto: Ist

Bula, Seram Bagian Timur – Hamparan hutan sagu membentang luas di berbagai wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Dari Dihil hingga Pulau Teor, sagu bukan sekadar tanaman pangan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selama berabad-abad, sagu menjadi sumber makanan pokok yang menopang ketahanan pangan keluarga-keluarga di wilayah yang dikenal dengan sebutan Ita Wotu Nusa.

Kini, di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, potensi sagu di Seram Bagian Timur kembali mendapat perhatian serius. Pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah strategis untuk mendorong hilirisasi sagu sebagai penggerak ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi SBT sebagai salah satu sentra sagu terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi Maluku memiliki potensi lahan sagu seluas 36.462 hektar. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Seram Bagian Timur menyumbang sekitar 34.723,60 hektar atau hampir seluruh potensi sagu yang dimiliki Maluku.

Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Dari total luas lahan sagu yang ada, baru sekitar 5.837 hektar yang dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan produksi mencapai 5.273 ton per tahun.

Angka ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat besar untuk meningkatkan produksi, nilai tambah, dan manfaat ekonomi sagu bagi masyarakat setempat.

Peta penyebaran pohon sagu di wilayah Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur. Foto: Ist

Potensi Besar yang Belum Tergarap Optimal

Bagi masyarakat Seram Bagian Timur, sagu selama ini lebih dikenal sebagai sumber pangan tradisional. Berbagai produk olahan seperti papeda, sagu lempeng, bagea, dan beragam makanan khas lainnya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

Namun, perkembangan industri pangan dan meningkatnya kebutuhan bahan baku ramah lingkungan membuka peluang baru bagi komoditas ini.

Selain sebagai sumber karbohidrat, sagu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan bernilai ekonomi tinggi, mulai dari tepung industri, bahan baku makanan modern, minuman, pakan ternak, hingga bioenergi.

Melihat peluang tersebut, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur tengah menyiapkan rancangan pengelolaan jangka panjang yang bertujuan mendorong hilirisasi sagu. Program ini bahkan direncanakan untuk diusulkan sebagai Program Strategis Nasional (PSN) kepada Presiden Prabowo Subianto.

Melalui program tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sagu tidak lagi berhenti pada produksi bahan mentah, melainkan berkembang menjadi industri yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian daerah.

Jika terealisasi, hilirisasi sagu diyakini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan lokal dan nasional, tetapi juga membuka peluang investasi serta mempercepat pembangunan di wilayah timur Indonesia.

Seorang petani terlihat sedang melakukan penebangan Pohon sagu secara tradisional di hutan Seram Timur.

ICMI Dorong Dialog Publik Berbasis Data

Dukungan terhadap gagasan hilirisasi sagu juga datang dari berbagai elemen masyarakat. Salah satunya dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah Seram Bagian Timur.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah daerah, ICMI Orda SBT akan menggelar dialog publik berbasis data yang mengangkat tema “PSN Hilirisasi Sagu Mewujudkan Ketahanan Pangan, Energi, dan Mitigasi Perubahan Iklim.”

Ketua Panitia Dialog Publik, Syafi’i Kotarumalos, mengatakan bahwa hilirisasi sagu memiliki potensi besar untuk menjadi pintu masuk pertumbuhan ekonomi baru di Seram Bagian Timur.

Menurutnya, potensi yang dimiliki daerah harus mulai diperkenalkan secara luas melalui pendekatan ilmiah dan diskusi publik agar memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.

“Program pemerintah daerah terkait hilirisasi sagu merupakan gerbang utama membuka pertumbuhan ekonomi di SBT. Karena itu, ICMI perlu mengambil peran dengan melakukan sosialisasi melalui dialog publik berbasis data agar gagasan ini dapat didorong menjadi Program Strategis Nasional,” kata Syafi’i di Bula.

Selain dialog publik, ICMI juga akan menyelenggarakan pameran produk berbasis sumber daya lokal, khususnya berbagai olahan sagu yang diproduksi masyarakat.

Produk-produk tersebut akan menampilkan keragaman pemanfaatan sagu, mulai dari makanan tradisional hingga produk kreatif yang memiliki potensi pasar lebih luas.

“Kami juga akan menggelar pameran produk olahan sagu yang disiapkan langsung oleh para petani dan pelaku usaha lokal dengan berbagai inovasi olahan,” ujarnya.

Petani sagu di Kabupaten SBT. Foto : Ist

Sagu untuk Ketahanan Pangan dan Masa Depan Daerah

Ketua ICMI Orda Seram Bagian Timur, Aroby Kelian, menegaskan pihaknya mendukung penuh langkah Pemerintah Kabupaten SBT dalam mendorong pengembangan industri sagu.

Menurutnya, sagu merupakan sumber daya strategis yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Sebagai pribadi maupun organisasi, ICMI Orda SBT mendukung penuh niat baik Bupati Fachri dan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur dalam mendorong potensi sagu menjadi Program Strategis Nasional,” kata Aroby.

Ia menilai, jika hilirisasi sagu berhasil masuk dalam daftar Program Strategis Nasional, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor pertanian, tetapi juga sektor ekonomi, infrastruktur, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lebih jauh, pengembangan sagu dinilai sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim. Berbeda dengan sejumlah komoditas pangan lain yang sangat bergantung pada kondisi cuaca tertentu, sagu dikenal sebagai tanaman yang mampu bertahan di lahan basah dan memiliki daya adaptasi tinggi terhadap perubahan lingkungan.

Keterangan Gambar: Proses pembuatan sagu dilakukan dui Pulau Seram, sekitar 1970. (Sumber foto: Harrison Forman)

Karena itu, sagu tidak hanya dipandang sebagai warisan pangan lokal masyarakat Maluku, tetapi juga sebagai salah satu solusi masa depan untuk menjawab tantangan krisis pangan dan perubahan iklim.

“Kami berharap masyarakat Seram Bagian Timur dapat mendukung program hilirisasi sagu ini. Jika nantinya diakomodasi sebagai Program Strategis Nasional, tentu akan memberikan dampak besar terhadap pembangunan daerah dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat,” ujar Aroby.

Dengan potensi lahan puluhan ribu hektar yang belum tergarap optimal, Seram Bagian Timur kini berada di persimpangan penting. Jika dikelola secara berkelanjutan dan didukung kebijakan yang tepat, sagu bukan hanya akan tetap menjadi pangan pokok masyarakat, tetapi juga dapat tumbuh menjadi komoditas unggulan yang menggerakkan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia dari timur Nusantara.

error: Content is protected !!