Merauke, – Kemunculan Yasinta Moyuwen di Jakarta untuk menyatakan penolakan terhadap film dokumenter Pesta Babi dan dukungan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan memunculkan tanda tanya besar di kalangan keluarganya sendiri.
Keluarga mengaku tidak pernah mengetahui keberangkatan perempuan adat asal Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke itu. Bahkan, sebelum namanya muncul dalam berbagai pemberitaan dan video yang beredar di media sosial, keluarga mengaku telah kehilangan kontak dengannya selama beberapa hari.
Kisah itu diungkapkan melalui unggahan akun Facebook @CheeCastro pada Minggu, 31 Mei 2026. Dalam tulisannya, pemilik akun mengaku bertemu dengan dua keponakan Yasinta Moyuwen, Ariston dan Esau, yang menceritakan kronologi hilangnya Yasinta dari kampung hingga kemunculannya di Jakarta.
Menurut keluarga, Yasinta terakhir terlihat berada di rumahnya di Wanam pada 23 Mei 2026 sekitar pukul 15.00 WIT. Sejak saat itu, ia tidak lagi diketahui keberadaannya.
Dua adik kandung Yasinta, Liborius dan Kansius, disebut langsung melakukan pencarian ke rumah-rumah warga hingga menyusuri Kampung Wanam dan Wogekel. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Situasi semakin membuat keluarga cemas karena nomor telepon Yasinta tidak dapat dihubungi.
“Sepanjang malam hingga pagi hari kami tidak mendapatkan informasi apa pun mengenai keberadaannya,” demikian pengakuan keluarga yang dikutip dalam unggahan tersebut.

Keesokan harinya, keluarga memperoleh informasi dari seorang anak angkat Yasinta. Anak tersebut mengaku sempat diminta membantu mengantarkan barang-barang pribadi Yasinta untuk persiapan perjalanan ke Merauke.
Menurut cerita yang disampaikan keluarga, anak angkat tersebut terakhir melihat Yasinta berada di sekitar Pos Kopassus Mandala. Ia juga mengaku melihat sejumlah barang milik Yasinta kemudian diambil oleh anggota yang disebut berasal dari pos tersebut.
Informasi lain kemudian beredar di tengah masyarakat. Sejumlah warga mengaku melihat Yasinta terbang menggunakan pesawat milik perusahaan menuju Tanah Merah dan Timika sebelum akhirnya diketahui berada di Jakarta.
Namun, hingga kini, seluruh informasi tersebut masih berupa keterangan keluarga dan warga yang belum dapat diverifikasi secara independen.
Terkejut Melihat Yasinta di Jakarta
Keluarga mengaku baru mengetahui keberadaan Yasinta setelah melihat unggahan yang beredar luas di media sosial.
Dalam berbagai video dan pemberitaan, Yasinta terlihat menyampaikan penolakan terhadap film dokumenter Pesta Babi sekaligus menyatakan dukungan terhadap proyek pembangunan yang sedang berlangsung di Papua Selatan.
Kemunculan tersebut membuat keluarga terkejut.
Pasalnya, menurut mereka, tidak ada satu pun anggota keluarga yang mengetahui proses keberangkatan Yasinta ke luar Papua.
“Seluruh keluarga kaget ketika melihat Mama Yasinta sudah berada di Jakarta,” tulis @CheeCastro.
Keluarga juga mengaku heran karena sikap yang disampaikan Yasinta dalam video tersebut dianggap berbeda dengan posisi yang selama ini diketahui keluarga.

Dugaan Adanya Tekanan
Dalam unggahan yang sama, keluarga menyebut adanya dugaan bahwa Yasinta tidak berangkat atas kehendaknya sendiri.
Dugaan itu muncul karena sejumlah peristiwa yang menurut mereka terjadi sebelum Yasinta muncul di Jakarta.
Pada 28 Mei 2026, keluarga mengaku didatangi oleh Kepala Distrik setempat bersama Komandan Pos Kopassus Mandala. Dalam pertemuan itu, keluarga disebut diberi kesempatan berbicara dengan Yasinta melalui telepon milik aparat.
Menurut keluarga, Yasinta meminta saudara-saudaranya mengirimkan fotokopi KTP dan Kartu Keluarga agar dapat diberangkatkan ke Jakarta.
Keluarga mengaku menolak permintaan tersebut.
Berdasarkan rangkaian peristiwa itu, keluarga menyatakan memiliki kekhawatiran dan mempertanyakan bagaimana sebenarnya proses keberangkatan Yasinta hingga berada di Jakarta.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang dapat menguatkan dugaan tersebut dan belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan keluarga.
Keluarga Siapkan Langkah Menjemput
Di tengah polemik yang berkembang, keluarga berencana mengirimkan perwakilan ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan Yasinta.
Rombongan yang akan berangkat disebut terdiri atas salah seorang anak Yasinta, saudara kandung, dan keponakan yang akan didampingi kuasa hukum keluarga.
Mereka berharap dapat memperoleh penjelasan langsung dari Yasinta mengenai seluruh peristiwa yang terjadi.
“Kami hanya ingin Mama Yasinta kembali pulang dan hidup tenang bersama keluarga di kampung,” demikian harapan keluarga yang dikutip dalam unggahan tersebut.
Keluarga juga menyebut kondisi kesehatan Yasinta yang selama ini sering mengalami gangguan kesehatan menjadi alasan utama mereka ingin memastikan keberadaan dan kondisinya secara langsung.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Yasinta Moyuwen terkait pengakuan keluarganya.
Pihak perusahaan yang disebut dalam unggahan tersebut, aparat keamanan, maupun pemerintah distrik setempat juga belum memberikan tanggapan atas berbagai klaim yang beredar.
Karena itu, sejumlah informasi dalam kronologi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari seluruh pihak terkait.
Sementara itu, kasus Yasinta Moyuwen sendiri muncul di tengah perdebatan yang semakin menguat mengenai proyek-proyek strategis nasional di Papua Selatan serta polemik film dokumenter Pesta Babi yang mengangkat suara masyarakat adat terkait perubahan besar yang sedang berlangsung di wilayah mereka.