Ambon, — Dugaan praktik pungutan liar (pungli) dan mafia perizinan di lingkungan Dinas Perhubungan Kota Ambon memicu gelombang protes publik setelah surat terbuka seorang warga viral di media sosial.
Surat yang diunggah melalui akun Facebook All M oleh Aldy Maupula itu menyoroti dugaan pungli “uang jalur” terhadap sopir angkutan kota (angkot), serta adanya perlakuan berbeda terhadap armada angkutan yang disebut tidak memiliki izin resmi.
Dalam unggahannya, Aldy menyebut para sopir angkot dipaksa mengeluarkan uang agar bisa melintas dan beroperasi di jalur tertentu.
“Jalanan ini adalah jalanan rakyat, milik negara. Sangat menyakitkan dan tidak adil, hasil keringat basudara dong yang dicari dengan susah payah harus dipaksa keluar hanya demi boleh melintas atau beroperasi di jalur sendiri,” tulis Aldy dalam unggahan yang viral tersebut.

Selain dugaan pungli jalanan, Aldy juga menyoroti adanya dugaan mafia perizinan di internal Dinas Perhubungan Kota Ambon. Ia menilai terdapat ketimpangan dalam penegakan aturan terhadap angkutan umum.
Menurut dia, sejumlah armada yang diduga tidak memiliki izin tetap bebas beroperasi, sementara sopir yang telah mengurus dokumen resmi justru kerap menjadi sasaran penertiban.
“Ini sangat jelas terasa ada permainan, ada yang dilindungi dan ada yang dimatikan usahanya,” tulisnya.
Sorotan publik yang meluas membuat Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, ikut memberikan tanggapan langsung melalui kolom komentar unggahan tersebut.
Bodewin meminta masyarakat melaporkan secara resmi apabila memiliki bukti dugaan pungli maupun penyimpangan aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Ambon.
“Jika ada bukti, laporkan resmi ke Beta Wali Kota supaya ditindak tegas. Tidak ada kompromi bagi ASN yang perilakunya buruk dan merugikan masyarakat,” tulis Bodewin.
Pernyataan Wali Kota itu kemudian memicu respons lanjutan dari warganet yang ikut membagikan pengalaman mereka terkait praktik pungli di lapangan.
Akun Facebook Badi Nasihu menyoroti beratnya beban ekonomi para sopir angkot yang harus memenuhi setoran harian di tengah dugaan pungutan tambahan di jalanan.
“Kasian dong mencari setiap hari dengan tuntutan setoran yang tinggi ditambah lagi dengan pungli-pungli para oknum,” tulisnya.
Sementara akun Mey’s Noija menyebut dugaan pungli terjadi di kawasan Poka, tepatnya di sekitar Fakultas Perikanan.
“Pungutan liar terjadi di Poka, di samping Fakultas Perikanan. Ada beberapa laki-laki dan bahkan satu orang perempuan,” tulisnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Dinas Perhubungan Kota Ambon belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan pungli dan dugaan mafia perizinan yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Penulis: Christin Pesiwarissa