Masyarakat Adat Pulau Damer Tolak Kawasan Konservasi Laut, Anggap Ancam Ruang Hidup

by
04/05/2026
Masyarakat adat Pulau Damer terlihat melakukan aksi protes dan penolakan terhadap rencana penetapan kawasan konservasi laut di Pulau Damer. Kredit foto: Akun facebook @DanielWatloly

Maluku Barat Daya — Penolakan terhadap rencana penetapan kawasan konservasi laut di Pulau Damer terus menguat. Sejumlah warga adat menyatakan kebijakan tersebut berpotensi mengancam ruang hidup dan praktik tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Salah satu suara penolakan disampaikan Daniel Watloly, pemuda asal Desa Batu Merah, Kecamatan Pulau Damer. Melalui pernyataan di media sosialnya, ia menegaskan bahwa masyarakat adat telah memiliki sistem pengelolaan laut berbasis kearifan lokal jauh sebelum konsep konservasi diperkenalkan oleh negara.

“Sebelum negara hadir dengan istilah konservasi, leluhur kami sudah menjaga laut melalui tradisi Sasi,” ujarnya.

Masyarakat adat Pulau Damer terlihat melakukan aksi protes dan penolakan terhadap rencana penetapan kawasan konservasi laut di Pulau Damer. Kredit foto: Akun facebook @DanielWatloly

Ia menjelaskan, praktik Sasi Meti merupakan mekanisme adat yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan di wilayah petuanan masyarakat adat di Pulau Damer.

Menurut Daniel, pendekatan konservasi yang tidak melibatkan masyarakat adat justru berisiko merampas hak kelola tradisional.

“Kami tidak membutuhkan konservasi laut yang menghilangkan ruang hidup masyarakat adat,” katanya.

Perwakilan DKP Provinsi Maluku saat melakukan presentasi Satuan Unit Organisasi (SUOP) Kawasan Konservasi di Maluku Barat Daya
error: Content is protected !!