Dekai, Papua Pegunungan — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim telah menembak seorang anggota kepolisian di Jalan Paradiso, Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua, pada malam pergantian tahun 2025.
Klaim tersebut disampaikan Juru Bicara Komando Nasional TPNPB, Sebby Sambom, melalui siaran pers tertanggal 1 Januari 2026 di sejumlah media sosial. Dalam pernyataan itu, TPNPB menyebut serangan dilakukan oleh pasukan Kompi Kinbusa dan diklaim sebagai bagian dari operasi bersenjata mereka di wilayah Yahukimo.
Menurut versi TPNPB, serangan terjadi pada 31 Desember 2025 dan menargetkan seorang anggota Brimob. TPNPB menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut dan mengaitkannya dengan apa yang mereka sebut sebagai “perang revolusioner bertahap” yang telah dideklarasikan sejak 2017.
TPNPB juga mengklaim bahwa dalam rentang 28–31 Desember 2025, kelompok mereka telah melakukan sejumlah serangan lain yang diklaim menewaskan lebih dari satu personel aparat keamanan. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Belum Ada Konfirmasi Aparat
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kepolisian RI, TNI, maupun Pemerintah Kabupaten Yahukimo yang membenarkan atau membantah klaim tersebut. titastory masih berupaya mengonfirmasi informasi ini kepada pihak kepolisian setempat dan otoritas keamanan di Papua Pegunungan.
Dalam siaran persnya, TPNPB juga kembali menyampaikan pernyataan politik dan ancaman terhadap warga non-Papua agar meninggalkan wilayah yang mereka sebut sebagai “zona perang”. Pernyataan tersebut merupakan klaim sepihakdan tidak mencerminkan status hukum resmi wilayah Yahukimo menurut negara.
Eskalasi Kekerasan di Papua Pegunungan
Wilayah Yahukimo dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu daerah dengan tingkat kekerasan bersenjata tertinggi di Papua Pegunungan. Aparat keamanan dan kelompok bersenjata pro-kemerdekaan kerap terlibat kontak senjata, dengan warga sipil berada dalam posisi rentan.
Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan lembaga HAM berulang kali mengingatkan bahwa eskalasi kekerasan bersenjata berisiko memperparah krisis kemanusiaan dan mempersempit ruang perlindungan warga sipil.
Titastory menekankan bahwa seluruh informasi terkait insiden ini masih bersifat klaim satu pihak dan memerlukan verifikasi lanjutan dari sumber resmi dan independen.
