Menjaga Identitas di Era Digital, Tarian Adat Jadi Benteng Terakhir Orang Maluku

17/01/2026
Keterangan gambar: Atraksi tarian Cakalele, Foto: Ist

Ambon, — Di bawah sorot lampu panggung dan kilauan layar gawai, langkah-langkah kaki penari tradisional Maluku kini berkejaran dengan algoritma media sosial. Di tengah banjir tren tari modern yang viral dan seragam, para pegiat seni di Tanah Raja-raja memilih bertahan: menjadikan tarian adat sebagai benteng terakhir menjaga marwah dan jati diri orang Maluku.

Bagi mereka, ancaman terbesar bukan semata berkurangnya minat generasi muda, melainkan terkikisnya memori kolektif ingatan tentang siapa orang Maluku, dari mana mereka berasal, dan nilai apa yang diwariskan oleh leluhur.

“Bagi beta, tari tradisional bukan sekadar hiburan,” kata Vigel Faubun kepada titastory.id, Jumat (16/1/2025). “Ia adalah bahasa identitas. Di situ ada doa, sejarah perlawanan, hingga cara orang Maluku menghormati alam dan sesama.”

Keterangan gambar: Proses latihan tarian Cakalele di salah satu sekolah dasar di Maluku, Foto: Ist

Melawan Lupa dengan Literasi Budaya

Tarian-tarian seperti Cakalele, Lenso, Hena Masa Waya, Tifa Tanimbar, hingga Maku-maku kini tak lagi hanya hidup dalam upacara adat tahunan. Komunitas seni, akademisi, dan pegiat budaya mulai memindahkan denyutnya ke ruang-ruang pendidikan, sanggar, hingga panggung kreatif anak muda.

Di balik setiap hentakan kaki dan ayunan tangan, tersimpan filosofi yang membentuk struktur sosial Maluku: pengetahuan tentang Pela Gandong sebagai ikatan hidup bersama, roh kebersamaan yang menjaga solidaritas lintas kampung, serta daya tahan budaya sebagai bentuk resistensi terhadap perubahan zaman yang serba cepat.

“Tari itu bukan gerak kosong,” ujar seorang pegiat seni. “Ia mengajarkan cara hidup.”

 

Strategi Digital: Bukan Menyaingi, Tapi Menegaskan

Para pegiat seni Maluku sadar, menolak teknologi bukanlah pilihan. Alih-alih memusuhi modernisasi, mereka memilih menjinakkannya. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube kini dipakai sebagai ruang baru untuk menampilkan tarian adat dikemas lebih segar, tanpa mencabut nilai sakralnya.

“Bukan par bersaing,” kata Vigel, “tapi par menegaskan bahwa katong punya akar yang kuat dan sejarah yang bermartabat layak ditampilkan di tanah sendiri maupun di panggung dunia.”

Strategi ini bukan soal viralitas semata, melainkan soal keberlanjutan: memastikan tarian adat tetap dikenali, dipelajari, dan dimaknai oleh generasi yang lahir di era digital.

 

Pijakan Kaki di Tanah Sendiri

Di persimpangan zaman ini, tanggung jawab menjaga identitas kian bergeser ke pundak generasi muda. Dokumentasi digital, pengajaran intensif di sanggar, hingga praktik tari di sekolah menjadi kerja sadar agar budaya Maluku tidak berhenti sebagai nostalgia.

Sebuah pesan filosofis terus diulang di antara para penari: tari boleh berubah, tapi pijakan kakimu jangan lupa di tanah mana ia berdiri.

Di tengah dentuman musik modern, langkah-langkah tua dari Tanah Raja-raja itu terus bergerak—menegaskan bahwa masa depan yang kuat adalah masa depan yang tidak pernah memutus jejak langkah para leluhur.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!