Ketika Bayang Perang Global Mendekat, Maluku Diminta Menguatkan Pangan Lokal

Ancaman Global dan Urgensi Pangan Lokal di Maluku
28/01/2026
Petani sagu di Kabupaten SBT. Foto : Ist

Jakarta, — Ketika dunia kembali dipenuhi ketegangan geopolitik, ancaman perang global tak lagi terasa abstrak. Persaingan kekuatan besar, konflik regional yang saling berkelindan, serta melemahnya kepercayaan antarnegara membuat banyak pengamat menyebut dunia berada di tepi jurang konflik besar berikutnya—bahkan Perang Dunia III.

Di tengah situasi itu, tokoh senior Maluku Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina mengingatkan bahwa wilayah-wilayah di Kawasan Timur Indonesia tak boleh hanya menjadi penonton. Menurutnya, satu langkah paling realistis yang bisa segera dilakukan adalah memperkuat pangan lokal sebagai bentuk perlindungan masyarakat dari dampak konflik global.

“Dunia hari ini seolah hanya diberi dua pilihan: diplomasi atau perang. Masalahnya, syarat utama diplomasi, kepercayaan, justru semakin menghilang dari praktik politik global,” kata Engelina di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Ia menilai eskalasi global sejak awal 2026 menunjukkan pola berbahaya. Titik-titik konflik muncul di berbagai belahan dunia: Timur Tengah, Eropa Timur, Asia Timur, hingga Amerika Latin. Menurut Engelina, percikan-percikan ini bukan peristiwa terpisah, melainkan rangkaian yang saling memicu.

“Kalau percikan ini terus dibiarkan, ia akan menyatu menjadi kobaran api besar. Dan itu bukan lagi konflik regional, tapi konflik global,” ujarnya.

Caption foto: Tokoh Senior Maluku Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina. Kredit foto: Istimewa

Engelina merujuk pada konsep Thucydides Trap, istilah yang dipopulerkan ilmuwan politik Graham Allison. Dalam sejarah, perang kerap meletus ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru.

“Dalam konteks sekarang, Amerika Serikat bisa dilihat sebagai kekuatan dominan, sementara China adalah kekuatan yang sedang bangkit. Ketegangan ini menciptakan situasi yang sangat rawan,” jelasnya.

Menurut Engelina, rivalitas ini makin kompleks karena dunia tak lagi bipolar seperti era Perang Dingin. Kini, kekuatan global bersifat multipolar, dengan berbagai blok dan aliansi baru. Dalam kondisi seperti ini, konflik berpotensi menyebar lebih luas dan berdampak langsung pada rantai pasok global.

Laut China Selatan dan Efek Domino

Salah satu titik paling krusial adalah Laut China Selatan (LCS). Ketegangan di kawasan ini, kata Engelina, bisa berdampak langsung pada Indonesia—bahkan jika Indonesia tidak terlibat secara militer.

“Kalau LCS terganggu atau ditutup, jalur logistik global akan terpukul. Indonesia tidak punya kemewahan untuk berpikir bahwa kita aman dari dampaknya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam skenario terburuk, gangguan di LCS akan memaksa pergeseran jalur logistik ke kawasan timur Indonesia. Di titik inilah Maluku berpotensi menjadi wilayah strategis—baik sebagai jalur alternatif maupun titik pijakan logistik.

Sejarah menunjukkan, Maluku bukan wilayah pinggiran dalam konteks geopolitik. Pada Perang Dunia II, Pulau Morotai menjadi batu loncatan strategis Sekutu untuk merebut Filipina dari Jepang.

“Kalau dulu Morotai menentukan jalannya Perang Pasifik, hari ini Maluku bisa menentukan bagaimana Indonesia bertahan dari dampak konflik global,” kata Engelina.

Menurutnya, Maluku berpotensi menjadi buffer zone bagi Indonesia Timur. Jika terjadi penetrasi kekuatan asing dari arah Pasifik, Maluku adalah garis pertahanan awal. Sebaliknya, jika Indonesia perlu memproyeksikan kekuatan ke utara, Maluku menjadi penopang logistik.

Namun, peran strategis ini juga membawa risiko besar. “Wilayah yang strategis selalu menjadi wilayah yang diperebutkan,” ujarnya.

Caption: Infografik Analisis Geopolitik & Pangan, dalam hal ini Maluku berisiko konflik global. Kredit: Diolah AI

Pangan sebagai Benteng Pertama

Dari sinilah Engelina menekankan urgensi pangan lokal. Dalam situasi konflik, senjata bukan satu-satunya penentu bertahan hidup. Pangan menjadi faktor kunci.

“Kalau jalur logistik terganggu, yang paling dulu dirasakan rakyat adalah kelangkaan pangan. Karena itu, memperkuat pangan lokal bukan pilihan ideologis, tapi kebutuhan praktis,” tegasnya.

Pandemi COVID-19, menurut Engelina, seharusnya sudah menjadi pelajaran mahal tentang rapuhnya sistem pasokan global.

Pakar pangan Dr. Semmy Leunufna menambahkan bahwa negara-negara maju telah lama mengantisipasi situasi darurat melalui bank plasma nutfah atau bank gen.

“Di dunia tersimpan sekitar tujuh juta aksesi sumber daya genetik. Amerika, Jepang, dan negara Eropa menyimpan benih sebagai cadangan strategis,” kata Semmy.

Ia menjelaskan, bank gen modern bahkan dirancang tahan terhadap bencana besar. “Ini menunjukkan bahwa pangan diperlakukan sebagai aset strategis negara,” ujarnya.

Caption: Seorang perempuan Desa Sabuai, Seram Timur terlihat mengolah sagu.

Potensi Maluku yang Terus Tergerus

Menurut Semmy, Maluku sebenarnya memiliki kekuatan pangan lokal yang besar: sagu, ubi-ubian, pisang, dan padi lokal. Namun, potensi itu terus menyusut.

“Sagu di Maluku turun drastis dalam 20–30 tahun terakhir. Ini alarm serius,” katanya.

Ia mendorong pembentukan bank gen komunitas berbasis desa dan keluarga, khususnya untuk sagu. Pendataan dusun sagu, pola panen, dan regenerasi tanaman harus menjadi kebijakan bersama.

“Setiap keluarga menjadi penjaga pangan. Negara berperan sebagai fasilitator,” ujarnya.

Engelina menutup dengan pesan lugas: perubahan global tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan.

“Kalau diplomasi gagal, rakyat yang paling dulu merasakan dampaknya. Pangan lokal adalah benteng pertama kita,” katanya.

Di tengah dunia yang kembali gaduh oleh genderang konflik, suara dari Maluku mengingatkan satu hal sederhana: bertahan hidup dimulai dari tanah sendiri.

error: Content is protected !!