Ambon, — Aktivitas pengerukan pasir dan batu (sirtu) di muara Sungai Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, memicu kekhawatiran serius warga. Sejak akhir 2025, material sungai dikeruk menggunakan alat berat yang diduga untuk kebutuhan bisnis penimbunan lahan. Dampaknya, ratusan rumah di bantaran sungai terancam abrasi dan banjir.
Warga menilai pengerukan tersebut menghilangkan fungsi alami muara sebagai penahan arus. Material sirtu yang selama ini berperan sebagai “benteng” hidrologi kini terkuras, membuat aliran air semakin deras menuju permukiman. Di sejumlah titik, jarak antara bibir galian dan rumah penduduk dilaporkan hanya tersisa sekitar 3 hingga 5 meter.
“Kami duga material sirtu di muara diambil untuk kebutuhan timbunan. Sebelum ada penggalian saja kami sudah sering kebanjiran, sekarang lapisan pelindungnya hilang,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan.

Kekhawatiran serupa disampaikan Pay Sipahelut, warga yang rumahnya berada dekat lokasi galian. Menurutnya, abrasi mulai menggerogoti dinding sungai dan bergerak mendekati pondasi rumah. “Kalau hujan besar datang, kami takut rumah bisa hanyut terbawa arus ke laut,” katanya, Jumat (24/1/2026).
Warga juga mempertanyakan sikap pemerintah setempat. Meski aktivitas pengerukan berlangsung berbulan-bulan, belum terlihat langkah tegas untuk menghentikan atau mengevaluasi kegiatan tersebut. Sejumlah warga menyebut pernah melihat oknum perangkat desa berada di lokasi, namun hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Negeri Tawiri.
Didampingi Ketua RT setempat, warga kemudian menyampaikan tuntutan kepada pemerintah negeri. Mereka meminta penghentian sementara aktivitas pengerukan, pemulihan ekosistem sungai yang rusak, serta pembangunan langkah mitigasi seperti talud atau tanggul untuk melindungi permukiman sebelum puncak musim hujan tiba.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Negeri Tawiri belum memberikan keterangan resmi terkait legalitas maupun dampak lingkungan dari aktivitas pengerukan di muara Sungai Tawiri.
Penulis; Christin Pesiwarissa
