Dari Sampah ke Rupiah: Warga Laha Ubah Plastik Jadi Aset Ekonomi Pesisir

03/01/2026
Keterangan gambar: Stand jualan yang menggunakan sampah plastik di Pesisir Pantai Desa Laha, Kota Ambon, Foto: Itin/titastory.id

Ambon, — Ketika sebagian besar kota pesisir masih berkutat dengan tumpukan sampah plastik, warga Negeri Laha memilih jalan berbed, mengubah limbah menjadi uang. Melalui inovasi eco brick, botol plastik berisi sampah non-organik kini dihargai Rp4.000 per botol, sekaligus menjadi bahan bangunan ramah lingkungan.

Langkah ini muncul di tengah status darurat sampah plastik di Kota Ambon, yang setiap harinya menghasilkan puluhan ton sampah rumah tangga, dengan plastik sebagai penyumbang utama pencemaran laut Teluk Ambon.

Keterangan gambar: Botol kemasan yang dipadatkan dijadikan sebagai bahan bangunan, Foto:Itin/titastory.id

Botol Plastik Bernilai, Laut Tak Lagi Jadi Tempat Buangan

Program pengolahan eco brick digerakkan oleh pemuda Negeri Laha bersama pemerintah negeri, dengan dukungan program CSR Pertamina. Skemanya sederhana namun disiplin: sampah plastik non-organik dipadatkan ke dalam botol air mineral hingga berat 200 gram, lalu dibeli oleh pengelola program.

“Setiap botol harus tepat 200 gram. Kalau kurang, kami kembalikan. Kalau sesuai, kami beli Rp4.000 per botol,” kata Soleman Mewar, koordinator pemuda Negeri Laha, Jumat (2/1/2026).

Skema ini mengubah perilaku warga. Plastik yang sebelumnya dibakar atau dibuang ke laut kini dipilah sejak dari dapur rumah tangga. Plastik tak lagi dianggap sampah, melainkan komoditas.

Keterangan gambar: Bangunan hasil kolaborasi sampah plastik berpadu struktur bambu dan daun sagu, Foto: Itin/titastory.id

Bangunan Kuliner dari Limbah

Eco brick hasil tabungan warga tak berhenti di gudang. Botol-botol itu akan disusun menjadi dinding kios kuliner tradisional di kawasan Pantai Laha Suang—ikon wisata baru berbasis lingkungan.

Arsitekturnya memadukan eco brick sebagai dinding, bambu sebagai struktur, dan daun sagu sebagai atap. Konsep ini bukan sekadar estetika, tetapi pesan ekologis: pariwisata bisa tumbuh tanpa merusak alam.

“Kami ingin tempat jualan ibu-ibu rapi, menarik, tapi tetap Maluku,” ujar Soleman.

 

Krisis Sampah Ambon: Data yang Tak Bisa Diabaikan

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Ambon, produksi sampah harian kota ini diperkirakan lebih dari 180 ton per hari, dengan plastik menyumbang sekitar 17–20 persen. Sebagian besar berakhir di TPA, sungai, dan laut.

Masalah ini menjadi salah satu alasan Pemkot Ambon menetapkan Peraturan Wali Kota tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber yang mulai diberlakukan penuh pada 2026. Aturan tersebut mewajibkan pemilahan sampah dari rumah tangga, membatasi plastik sekali pakai, serta mendorong ekonomi sirkular.

Program eco brick Desa Laha dinilai selaras langsung dengan arah kebijakan tersebut bahkan melampaui, karena sudah memberi insentif ekonomi nyata kepada warga.

 

Pemuda dan Ekonomi Sirkular

Bagi pemuda Laha, ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan strategi bertahan hidup pesisir.

“Kalau laut rusak, pariwisata mati. Kalau pariwisata mati, ekonomi warga lumpuh,” kata Soleman.

Dengan memberi nilai beli pada sampah, program ini mendorong ekonomi sirkular: sampah → bahan bangunan → ruang usaha → pendapatan warga.

Apa yang dilakukan Negeri Laha menunjukkan bahwa solusi krisis sampah tidak selalu harus mahal atau menunggu proyek besar pemerintah. Dengan standar sederhana, insentif jelas, dan keterlibatan pemuda, plastik bisa berhenti menjadi masalah dan mulai menjadi solusi.

Di kota yang lautnya kian tercekik sampah, langkah kecil dari Negeri Laha memberi pesan kuat: jika plastik bisa dibeli, ia tak akan dibuang.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!