Christ Belseran Raih Penghargaan Oktovianus Pogau 2026: Suarakan Jeritan Hutan Maluku di Tengah Deru Nikel

31/01/2026
Keterangan gambar: Jurnalis Christ Belseran bersama tokoh adat Suku Upau yang mendiami kawasan Seram Selatan, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Foto: titastory.id

Jakarta,– Yayasan Pantau resmi menganugerahkan Penghargaan Oktovianus Pogau 2026 kepada Christ Jacob Belseran, jurnalis investigasi asal Ambon, Maluku. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan keberanian luar biasa Christ dalam meliput isu-isu lingkungan, masyarakat adat, dan dampak destruktif industri ekstraktif di wilayah Maluku dan Maluku Utara.

Informasi pemberian penghargaan ini disampaikan melalui pesan email Andreas Harsono kepada jurnalis titastory.id.
Pesan email mengurai, penghargaan tahunan yang jatuh setiap tanggal 31 Januari ini diberikan untuk mengenang mendiang Oktovianus Pogau, jurnalis Papua yang dikenal gigih menyuarakan ketidakadilan.
Tahun ini, dewan juri yang terdiri dari tokoh pers senior seperti Andreas Harsono dan Alexander Mering, sepakat bahwa Christ adalah representasi terbaik dari semangat tersebut.

Keterangan gambar: Keseruan di Kali Nua, waktu senggang liputan bercerita dengan anak anak adat di Pulau Seram, Makuku, Foto: titastory.id

Christ Belseran di Piru, kota kecil di Pulau Seram, sekaligus ibukota Kabupaten Seram Bagian Barat. Dia menyelesaikan pendidikan ilmu kelautan di Universitas Pattimura, Ambon, dan magister ilmu komunikasi di Universitas Sahid, Jakarta. Belseran anggota Aliansi Jurnalis Independen.
Dia mulai bekerja sebagai wartawan tahun 2011, mulanya di televisi lokal, lantas sebagai kontributor media Jakarta seperti RTV, TV One, dan The Jakarta Post.

Pada April 2020, The Jakarta Post menerbitkan laporannya soal kematian misterius Yohanes Balubun, seorang pengacara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, dalam kecelakaan motor di Ambon bulan April 2016, “Four years on, death of Ambon rights figure still leaves hints of anguish.”

Sejak 2019, dia bekerja buat Mongabay Indonesia. Liputan lingkungan hidup, masyarakat adat, perubahan iklim, dan hak asasi manusia, jadi langganannya. Banyak laporan menarik buat Mongabay:

 

Jurnalisme “Nomaden” dan Ketahanan di Hutan

Christ, pendiri media lokal Titastory dan kontributor Mongabay Indonesia, dikenal dengan metode “nomaden journalism”. Ia sering kali harus menembus hutan belantara selama berhari-hari hanya dengan berbekal parang dan kemampuan bertahan hidup untuk mencapai lokasi konflik agraria yang terisolasi.

“Christ bukan sekadar meliput masyarakat adat; ia hidup bersama mereka. Jarang sekali ada jurnalis yang mampu bertahan di medan seberat itu demi sebuah fakta,” ujar Yuliana Lantipo, salah satu anggota dewan juri dari Yayasan Pantau.

 

Mengupas Sisi Gelap Hilirisasi

Laporan-laporan Christ menjadi antitesis dari narasi manis pertumbuhan ekonomi nasional. Di saat pusat sibuk membicarakan masa depan baterai kendaraan listrik, Christ justru menyoroti:
• Kerusakan Laut Maba: Dampak limbah tambang yang menghancurkan mata pencaharian nelayan.
• Perampasan Tanah Adat: Kriminalisasi warga di Pulau Seram yang mempertahankan hutan leluhur mereka.
• Kematian Misterius Aktivis: Investigasi mendalam atas hilangnya nyawa para pembela hak masyarakat adat.

 

Melawan Stigma dan Risiko Keamanan

Perjalanan karier Christ tidak mulus. Pada 2020, ia sempat berurusan dengan Polda Maluku terkait liputannya. Namun, tekanan hukum dan stigma negatif tidak menyurutkan langkahnya. Bagi Christ, jurnalisme adalah instrumen etis untuk memindahkan isu dari “pinggiran” ke pusat perhatian dunia.
“Istilah ‘suara pinggiran’ bukan soal jarak, tapi soal isu yang sengaja dijauhkan dari kesadaran publik,” ungkap Christ dalam salah satu catatan liputannya.

 

Simbol Solidaritas Indonesia Timur

Kemenangan Christ Belseran di awal tahun 2026 ini dipandang sebagai pesan kuat bagi industri media nasional. Bahwa kebenaran yang ditemukan di pesisir Halmahera atau hutan Seram memiliki derajat yang setara dengan kebijakan yang diputuskan di ibu kota.
Penghargaan ini menjadi pengingat bagi publik bahwa di balik kemegahan industri hijau global, ada manusia-manusia adat yang berjuang mempertahankan tanah terakhir mereka dan ada jurnalis seperti Christ yang memastikan perjuangan mereka tidak sunyi.

Keterangan gambar: Hutan diterobos, Christ Belseran telah menjadi sahabat kaum marginal dan terpinggirkan. Dia pendengar setia dan menjadi corong untuk menyampaikan ketidakadilan, reportase dan narasi telah menggaung hingga ke pelosok negeri, Foto: titastory.id

Mengapa Sosok Christ Belseran Sangat Penting di Tahun 2026?

Kemenangan Christ Belseran bukan sekadar prestasi individu, melainkan sebuah sinyal peringatan bagi arah jurnalisme Indonesia. Di tengah dominasi berita berbasis kecerdasan buatan (AI) dan jurnalisme meja (desk journalism) yang mengandalkan kecepatan klik, Christ mengembalikan marwah jurnalisme ke akarnya: presensi fisik dan validasi lapangan.

 

Menembus “Titik Buta” Informasi Nasional

Provinsi Maluku dan Maluku Utara sering kali menjadi blind spot dalam pemberitaan nasional. Narasi tentang “Hilirisasi Nikel” sering kali hanya dibahas dari sudut pandang ekonomi makro dan investasi di Jakarta. Christ masuk ke celah tersebut, melaporkan bagaimana air laut yang dulunya jernih di Halmahera berubah menjadi cokelat kemerahan, serta bagaimana ketahanan pangan perempuan Maba Sangaji hancur akibat ekspansi tambang.

 

Keberanian di Tengah Minimnya Perlindungan Hukum

Menjadi jurnalis di wilayah pelosok memiliki risiko ganda. Selain ancaman fisik dari pihak-pihak yang merasa terganggu, akses terhadap perlindungan hukum sangat terbatas. Keberanian Christ menghadapi pemeriksaan polisi pada 2020 menunjukkan bahwa integritasnya telah teruji oleh waktu dan tekanan.

 

Redefinisi “Suara Pinggiran”

Melalui Christ, kita belajar bahwa “pinggiran” bukan lagi sekadar kategori geografis.
“Pinggiran adalah tempat di mana ketidakadilan terjadi namun akses informasi diputus secara sistematis.” Dengan membawa narasi dari hutan Seram ke panggung nasional, Christ sedang meruntuhkan tembok isolasi yang selama ini membungkam masyarakat adat.

Daftar Juri dan Standar Penilaian

Transparansi penilaian Penghargaan Oktovianus Pogau 2026 didasarkan pada tiga kriteria utama:
• Keberanian: Kemampuan meliput di bawah ancaman atau medan ekstrem.
• Integritas: Konsistensi dalam menyuarakan hak-hak mereka yang terpinggirkan tanpa kompromi politik.
• Dampak: Sejauh mana liputan tersebut mampu memicu diskusi publik atau perubahan kebijakan di tingkat lokal maupun nasional.

 

Dewan Juri 2026:

• Andreas Harsono (Yayasan Pantau)
• Alexander Mering (Perintis jurnalisme warga di Kalimantan)
• Coen Husain Pontoh (Editor dan aktivis)
• Made Ali (Aktivis lingkungan/Jikalahari)
• Yuliana Lantipo (Jurnalis senior Papua)

 

Pesan bagi Jurnalis Muda

Penghargaan ini adalah pengingat bahwa jurnalisme bukan tentang seberapa megah kantor media Anda, melainkan seberapa jauh Anda bersedia berjalan untuk menemukan kebenaran. Christ Belseran telah membuktikan bahwa dengan sebuah parang, keterampilan bertahan hidup, dan hati yang jujur, seorang jurnalis bisa mengguncang narasi istana dari dalam hutan Maluku.

error: Content is protected !!