Ambon, — Bentrokan berulang di kawasan Batu Merah Atas, Kota Ambon, dinilai bukan ledakan emosi spontan warga. Analis sosial-politik Faisal Marasabessy menyebut konflik tersebut sebagai konflik ekonomi yang dipelihara secara sistemik, dengan aktor-aktor tertentu yang diuntungkan dari situasi tidak stabil.
Pernyataan Faisal mencuat dan menjadi perbincangan luas di media sosial. Ia menilai setiap konflik yang pecah justru membuka ruang distribusi kepentingan ekonomi di balik layar.
“Semakin sering bentrok, semakin besar perputaran uang dan kepentingan yang bermain,” tulis Faisal.
Menurutnya, kekerasan di Batu Merah tidak bisa dilepaskan dari kanalisasi konflik—yakni pengalihan masalah struktural ekonomi ke konflik horizontal antarwarga.

Penanganan Aparat Dinilai Hanya di Permukaan
Faisal mengkritik pola penanganan keamanan yang selama ini hanya berfokus pada pembubaran massa dan penjagaan temporer. Pendekatan tersebut dinilai gagal menyentuh akar persoalan.
“Konflik dihentikan di permukaan, tapi aktor intelektual di belakangnya tidak pernah disentuh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa selama aktor penggerak ekonomi konflik tidak diungkap, bentrokan akan terus berulang dengan pola yang sama: cepat menyala, cepat diredam, lalu muncul kembali.
Lebih jauh, Faisal menyoroti dampak sosial yang meluas. Batu Merah terus dilekatkan dengan stigma “zona rawan konflik”, yang merugikan warga dan institusi pendidikan di sekitarnya, termasuk UIN A.M. Sangadji Ambon.
Video bentrokan yang beredar luas di media sosial, menurutnya, menciptakan narasi negatif yang menetap di ingatan publik, mempersempit peluang sosial dan ekonomi warga kawasan tersebut.
“Ini bukan hanya soal keamanan, tapi soal masa depan sosial warga,” katanya.
“Jang Baku Lempar di Atas, Orang Angka Kepeng di Belakang”
Dalam pesannya kepada masyarakat, Faisal menggunakan dialek Ambon yang lugas dan tajam:
“Jang ade dong baku lempar di atas, orang angka kepeng di belakang.”
Pesan itu dimaknai sebagai peringatan agar warga tidak menjadi pion konflik, sementara pihak lain meraup keuntungan ekonomi dari kekacauan.
Sejumlah warga dan pengamat kini mendesak aparat keamanan tidak berhenti pada pengamanan fisik, tetapi menyelidiki jaringan kepentingan ekonomi yang diduga memelihara konflik.
Harapannya, penanganan konflik Batu Merah tidak lagi bersifat reaktif, melainkan struktural dan berkeadilan, agar siklus kekerasan benar-benar terputus.
Penulis: Christin Pesiwarissa
