Gubukku, Istanaku: Potret Kemiskinan dari Negeri Minyak Seram Bagian Timur

17/09/2026
Ahmad, Masyarakat SBT yang duduk sendiri di depan gubuknya, Foto: Ist
Di sebuah gubuk berdinding seng dan karung bekas di Dada Kataloka, Ahmad Rumalean menjalani hari-hari tuanya seorang diri. Di kabupaten yang dikenal sebagai daerah penghasil minyak, ia mengaku bantuan pemerintah hanya pernah diterimanya sekali.

Bula, Seram Bagian Timur, — Atapnya bukan seng baru. Bukan pula genteng yang tersusun rapi menahan panas dan hujan.

Atap gubuk itu terbuat dari rumbia yang mulai menua. Dindingnya sebagian seng berkarat, sebagian lagi ditutup karung bekas. Lantainya tanah. Di bagian depan, sebatang kayu menjadi penyangga sederhana agar bangunan kecil itu tetap berdiri.

Di ambang pintu, seorang lelaki tua duduk menekuk kedua lutut.

Rambutnya telah memutih. Wajahnya mengeriput dimakan usia. Tubuhnya terlihat kurus, tetapi sorot matanya masih menyimpan keteguhan.

Dia Ahmad Rumalean, 65 tahun.

Inilah bangunan yang menjadi tempat Ia berteduh dari panas dan hujan, Foto: Ist

Bagi sebagian orang, tempat seperti itu mungkin sulit disebut rumah.
Bagi Ahmad, itulah tempat ia pulang.

“Beta seng mau membebani keluarga,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada perjalanan hidup seorang lelaki yang memilih bertahan dalam kesunyian, mengandalkan apa yang tumbuh di sekitar rumah untuk menyambung hidup.

Puluhan tahun sudah Ahmad tinggal di gubuk tersebut di Dada Kataloka, Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku. Secara administratif, Dada Kataloka memang merupakan salah satu desa di Kecamatan Pulau Gorom.

Hari-harinya tidak banyak berubah.

Ketika lapar datang, ia mengambil ubi-ubian yang tumbuh di sekitar halaman. Tidak ada pekerjaan tetap. Tidak ada penghasilan bulanan yang bisa diandalkan.
Ia hidup sendiri.

Bukan karena tidak mempunyai keluarga. Ahmad hanya tidak ingin menjadi beban bagi mereka.

“Beta seng mau membebani keluarga. Meski beta di gubuk ini dan bertahan dari tanaman-tanaman ini, yang penting beta tidak membebani orang,” ujarnya sembari sesekali mengusap air mata.
Kalimat itu terhenti beberapa saat.

Usianya telah senja, tetapi ia masih berusaha mengurus dirinya sendiri.

Rumah yang Bocor, Hidup yang Bertahan
Gubuk itu mungkin masih cukup untuk menahan terik matahari.

Tetapi hujan adalah cerita lain.
Ketika musim hujan datang, air masuk melalui atap yang bocor. Lantai tanah berubah menjadi genangan. Ahmad tak punya banyak pilihan selain bertahan di dalamnya.

Ia menggunakan kelambu sebagai pelindung tambahan agar tubuhnya tidak terlalu kedinginan.

“Kalau hujan, di dalam ini semua tergenang. Dingin. Untung ada kelambu ini sebagai penghangat agar tidak kedinginan,” katanya.
Tidak ada kamar yang benar-benar terpisah. Tidak ada ruang tamu. Tidak ada perabot mewah.

Yang ada hanya sebuah ruang sederhana yang sekaligus menjadi tempat tidur, tempat berteduh, dan tempat Ahmad menjalani sisa hidupnya.
Ia tahu rumah itu sudah tidak layak.

Ahmad Rumalean (65) yang berada di tempat tidur yang selama ini mengandalkan kelambu sebagai pelindung tambahan agar tubuhnya tidak terlalu kedinginanFoto: Ist

Namun memperbaikinya membutuhkan biaya.

Karena itu, Ahmad hanya berharap ada perhatian pemerintah. Bukan rumah mewah. Ia hanya ingin tempat tinggal yang lebih aman agar hujan tidak lagi menggenangi lantai dan atap tidak terus-menerus bocor.

“Beta berharap ada sedikit perhatian pemerintah untuk memperbaiki gubuk ini,” katanya.

Harapan itu tampak sederhana.

Tetapi bagi Ahmad, mungkin itulah bentuk kemewahan yang masih bisa ia impikan.
Sekali Menerima Bantuan
Kemiskinan Ahmad tidak berhenti pada kondisi rumah.
Ia juga mengaku hampir tidak pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Beta seng pernah dapat bantuan apa pun dari pemerintah,” ujarnya.
Ia kemudian mengingat satu bantuan yang pernah diterimanya.

Bantuan Langsung Tunai untuk kategori ekstrem dari Dana Desa Administrasi Dada Kataloka.

Itu pun hanya sekali.
“Tahun 2023 beta hanya dapat satu kali BLT ekstrem,” katanya.

Pengakuan Ahmad tentu perlu dilihat sebagai pengalaman personal dan tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh sistem penyaluran bantuan di Dada Kataloka bermasalah. Namun cerita itu memperlihatkan bagaimana seseorang yang hidup dalam kondisi sangat sederhana dapat merasa tidak tersentuh oleh program perlindungan sosial.

Di tingkat kabupaten, persoalan kemiskinan memang masih menjadi pekerjaan besar.

Data BPS untuk 2024 mencatat 24,34 ribu penduduk Seram Bagian Timur hidup dalam kemiskinan, dengan persentase 21,03 persen. Pada 2023 angkanya 21,08 persen. Artinya, dalam setahun angka tersebut hanya turun 0,05 poin. Garis kemiskinan pada 2024 tercatat Rp478.721 per kapita per bulan.

Angka itu jauh lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi wajah manusia.

Salah satunya Ahmad.
Tetapi Ahmad bukan angka statistik.

Ia adalah seseorang yang setiap hari harus memilih apa yang bisa dimakan, bagaimana bertahan ketika hujan turun, dan bagaimana menjaga agar dirinya tidak menjadi beban bagi keluarga.

Di Dada Kataloka, persoalan kesejahteraan juga bersinggungan dengan kerentanan pangan. Data Badan Pangan Nasional untuk 2024 mencatat dari 137 penduduk Dada Kataloka, sebanyak 57 orang masuk kategori undernourished, atau 41,61 persen. Indikator ini berbeda dengan angka kemiskinan BPS, tetapi memberikan gambaran lain mengenai kerentanan pangan di desa tersebut.

Di depan gubuk Ahmad, data-data itu seperti memperoleh wajah.

Negeri yang Menghasilkan Minyak

Ada paradoks yang lebih besar di balik cerita Ahmad.
Seram Bagian Timur bukan daerah yang asing dengan minyak.

Di bagian lain kabupaten ini, terutama Bula, minyak bumi telah menjadi bagian dari sejarah panjang ekonomi daerah. Pemerintah mencatat Wilayah Kerja Bula dikelola Kalrez Petroleum (Seram) Ltd., sementara Wilayah Kerja Seram Non-Bula dikelola CITIC Seram Energy Ltd. Keduanya tercatat sebagai wilayah kerja migas di Seram Bagian Timur.
Pemerintah bahkan memberikan kontrak baru untuk WK Bula kepada Kalrez Petroleum pada 2018 dengan komitmen investasi lima tahun pertama sebesar US$5,25 juta. Untuk WK Seram Non-Bula yang dikelola CITIC Seram Energy, komitmen investasi lima tahun pertamanya tercatat US$48,892 juta.

Minyak telah menjadi bagian dari sejarah Bula selama lebih dari satu abad.

Tetapi pertanyaan yang terus muncul adalah: sejauh mana kekayaan itu menjelma menjadi kesejahteraan bagi masyarakat yang hidup di kabupaten penghasilnya?
Pertanyaan itu pula yang menjadi bagian dari liputan “Mengais di Negeri Minyak” yang sebelumnya mengangkat kisah Fitria Tueka, seorang anak berusia 11 tahun di Bula yang memungut botol plastik, kaleng, dan barang bekas untuk membantu keluarganya dan memenuhi kebutuhan sekolah. Kisah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas minyak tidak dengan sendirinya berarti seluruh masyarakat di sekitarnya menikmati manfaat ekonomi.

Kini, dari sudut yang berbeda, Ahmad memperlihatkan cerita serupa.

Jika Fitria mengais barang bekas di sekitar fasilitas minyak, Ahmad mengais kehidupan dari tanah di halaman gubuknya.
Keduanya berada dalam kabupaten yang sama.
Keduanya menjalani kehidupan dengan cara masing-masing.

Dan keduanya memperlihatkan pertanyaan yang sama: untuk siapa kekayaan daerah dikelola?
Minyak dan Angka Kemiskinan
Tentu, tidak tepat menyimpulkan bahwa kemiskinan Ahmad secara langsung disebabkan oleh industri minyak.

Begitu pula angka kemiskinan Seram Bagian Timur tidak dapat secara otomatis dikaitkan dengan kegiatan migas.

Kemiskinan dipengaruhi banyak faktor: pekerjaan, pendidikan, akses kesehatan, infrastruktur, geografis kepulauan, harga kebutuhan pokok, akses terhadap pasar, serta kemampuan rumah tangga memperoleh pendapatan yang stabil.
Namun justru karena itulah keberadaan sumber daya alam dalam jumlah besar menjadi penting untuk dipertanyakan.
Sumber daya alam semestinya tidak hanya menghasilkan produksi.

Ia juga harus diterjemahkan menjadi layanan publik, pekerjaan yang layak, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat.
Dalam laporan “Mengais di Negeri Minyak”, persoalan manfaat ekonomi Blok Bula juga telah menjadi bahan perdebatan. Data produksi, penerimaan negara, penerimaan daerah, participating interest 10 persen, hingga penggunaan penerimaan daerah menjadi bagian dari pertanyaan yang perlu dibuka kepada publik.
Pemerintah pada 2018 bahkan meminta produksi dari wilayah kerja yang diperpanjang, termasuk Bula, ditingkatkan.

Namun bagi masyarakat seperti Ahmad, ukuran kesejahteraan tidak dihitung dalam barel.

Ia dihitung dari apakah seseorang bisa memiliki rumah yang tidak bocor.
Apakah ia bisa makan tanpa harus menunggu bantuan.
Apakah orang tua di usia senja bisa hidup tanpa merasa menjadi beban keluarganya.
Dan apakah pemerintah mengetahui keberadaan mereka.

Di Ujung Pulau, Ada Rumah yang Hampir Tak Terlihat
Dada Kataloka berada jauh dari hiruk-pikuk pusat pemerintahan.

Di tempat seperti ini, kemiskinan bisa sangat mudah menjadi tidak terlihat.

Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada kawasan industri besar. Tidak ada lalu lintas kendaraan yang padat.

Yang terlihat adalah rumah-rumah warga, kebun, laut dan kehidupan yang berjalan perlahan.

Di salah satu sudutnya berdiri gubuk Ahmad.

Dinding sengnya sudah berkarat.

Karung bekas masih menggantung sebagai penutup.

Atap rumbia menua diterpa panas dan hujan.
Tetapi di dalam kesederhanaan itu, Ahmad masih mempertahankan hidupnya.

Ia menanam ubi.

Ia makan dari apa yang tersedia.

Ia memperbaiki gubuknya sebisanya.

Dan setiap hari ia bangun untuk menjalani hidup yang sama.

Mungkin bagi orang lain, gubuk itu hanyalah bangunan sederhana yang nyaris roboh.
Bagi Ahmad, gubuk itu adalah rumah.

Tempat ia berteduh.
Tempat ia tidur.

Tempat ia menyimpan sisa-sisa hidupnya.
Tempat ia memilih untuk tidak menyerah.

“Yang penting beta tidak membebani orang,” katanya.
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan seorang lelaki tua terhadap kehidupannya sendiri.

Namun sesungguhnya, kalimat itu juga menyimpan pertanyaan kepada negara: sampai kapan seseorang harus bertahan sendiri ketika negara memiliki berbagai program untuk mereka yang hidup dalam kemiskinan?

Bukan Sekadar Rumah

Kisah Ahmad seharusnya tidak berhenti pada rasa iba.

Sebab kemiskinan bukan sekadar rumah berdinding seng, atap rumbia atau lantai tanah.

Kemiskinan adalah ketika seseorang kehilangan pilihan.
Ketika sakit tidak punya biaya.
Ketika hujan menjadi ancaman.

Ketika makanan bergantung pada apa yang tumbuh di halaman.

Dan ketika bantuan pemerintah menjadi sesuatu yang hanya sekali datang dalam ingatan.

Seram Bagian Timur memang mencatat penurunan persentase kemiskinan dari 21,08 persen pada 2023 menjadi 21,03 persen pada 2024. Tetapi penurunan 0,05 poin menunjukkan bahwa pekerjaan mengurangi kemiskinan masih panjang.
Di sisi lain, sejarah migas Bula terus berjalan. Kalrez Petroleum masih tercatat sebagai operator WK Bula, sedangkan CITIC Seram Energy mengelola WK Seram Non-Bula.

Dua kenyataan itu berjalan beriringan.

Minyak tetap keluar dari perut bumi.

Sementara di pelosok pulau, seorang lelaki berusia 65 tahun masih menunggu perhatian untuk memperbaiki atap rumahnya.

Ahmad mungkin tidak pernah menghitung berapa barel minyak yang keluar dari Seram.

Ia hanya tahu kapan perutnya lapar.

Ia tahu kapan hujan turun.
Dan ia tahu kapan atap gubuknya mulai bocor.

Di situlah paradoks Seram Bagian Timur terasa paling dekat: kekayaan alam bisa dihitung dalam barel, sementara kemiskinan dirasakan dalam tetes air hujan yang jatuh ke lantai rumah.

Dan di bawah atap rumbia yang semakin tua itu, Ahmad masih duduk.
Sendiri.

Menunggu hari esok.
Sambil berharap, sebelum usianya benar-benar habis, ada seseorang yang datang memperbaiki rumah kecil yang selama puluhan tahun ia sebut sebagai rumahnya.

“Gubukku adalah istanaku.”
Bukan karena gubuk itu megah.

Melainkan karena hanya di sanalah Ahmad masih merasa memiliki tempat untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.


error: Content is protected !!