Ubah Limbah Jadi Rupiah, Warga Binaan Rutan Ambon Sulap Batok Kelapa Jadi Karya Seni

by
11/05/2026
Caption: Salah satu warga binaan tengah membersihkan batok kelapa untuk dijadikan sebagai bahan kerajinan yang inidah, Foto:titastory.id/Christin

Ambon, – Kreativitas bisa tumbuh di mana saja, bahkan dari balik tembok rumah tahanan. Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon membuktikan hal itu melalui program pembinaan kemandirian yang mengubah limbah batok kelapa menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Di tangan para warga binaan, bahan yang sebelumnya dianggap tak bernilai kini menjelma menjadi berbagai produk seni dan perlengkapan rumah tangga yang unik, menarik, dan memiliki potensi pasar menjanjikan.

Program ini menjadi salah satu wajah baru pembinaan di Rutan Ambon yang tidak hanya fokus pada pembinaan mental, tetapi juga pemberdayaan ekonomi.

Caption: Wujud dari hasil kerajinan warga binaan di Rutan kelas IIA Ambon Foto: titastory.id/Christin

Kegiatan yang dipantau pada Senin (04/05) tersebut memperlihatkan keseriusan pihak rutan dalam membangun keterampilan produktif bagi warga binaan. Mulai dari pemilahan bahan baku, proses pembersihan, pengeringan, hingga tahap pembentukan dan finishing dilakukan dengan penuh ketelitian dan kesabaran.

Tidak sekadar menjadi aktivitas pengisi waktu, proses pembuatan kerajinan ini juga menjadi ruang belajar yang membentuk karakter. Para warga binaan dibimbing secara langsung oleh instruktur berpengalaman untuk menghasilkan karya yang memiliki nilai estetika dan kualitas jual.

Hasilnya, berbagai produk seperti lampu hias, tempat tisu, mangkuk, gantungan kunci, hingga ornamen dekoratif berhasil diproduksi dengan tampilan yang menarik dan berciri khas.

Keunikan motif alami dari batok kelapa menjadi daya tarik tersendiri yang membuat produk-produk tersebut memiliki nilai artistik tinggi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan agar warga binaan memiliki bekal keterampilan setelah bebas nanti.

“Kami ingin warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh kemampuan yang dapat digunakan untuk membangun kehidupan mereka ke depan. Mereka harus mampu melihat peluang ekonomi dari hal-hal sederhana di sekitar,” ujar Jefry saat dihubungi terpisah, pekan kemarin.

Menurutnya, pembinaan keterampilan seperti ini memiliki dampak besar dalam membentuk pola pikir positif warga binaan. Selain melatih kreativitas, kegiatan tersebut juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan ketekunan.

“Yang paling penting adalah membangun rasa percaya diri mereka bahwa mereka masih bisa berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tambahnya.

Tak hanya berhenti pada proses produksi, pihak Rutan Ambon juga mulai membuka peluang pemasaran bagi hasil karya warga binaan. Produk kerajinan batok kelapa tersebut direncanakan akan dipromosikan melalui pameran maupun kerja sama dengan berbagai pihak agar memiliki nilai ekonomi nyata.

Langkah ini sekaligus menjadi upaya untuk menghapus stigma negatif terhadap warga binaan. Melalui karya kreatif yang dihasilkan, mereka menunjukkan bahwa pembinaan yang tepat mampu melahirkan perubahan positif dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Program inovatif ini pun menjadi simbol harapan baru di balik jeruji. Dari limbah sederhana, lahir karya bernilai. Dari ruang terbatas, tumbuh semangat untuk bangkit dan berkarya.

Penulis: Christin Pesiwarissa
error: Content is protected !!