Waspada Banjir Rob di Pesisir Maluku, BPBD Kota Ambon Minta Warga Siaga hingga 13 Februari

30/01/2026
Keterangan gambar: Informasi Waspadai Banjir Pesisir, Foto: BMKG

Ambon, — BPBD Kota Ambon mengeluarkan peringatan kewaspadaan dini kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir, menyusul potensi terjadinya banjir pesisir atau rob dalam dua pekan ke depan. Ancaman rob diperkirakan berlangsung sejak 30 Januari hingga 13 Februari 2026, seiring meningkatnya pasang air laut akibat fenomena astronomi.

Kepala BPBD Kota Ambon, Frits Tatipikalwan, menjelaskan bahwa peringatan ini didasarkan pada rilis resmi BMKG yang mencatat adanya dua faktor alam utama pemicu kenaikan muka air laut, yakni fase Perigee—saat posisi Bulan berada paling dekat dengan Bumi—pada 30 Januari 2026, serta puncak fase Bulan Purnama yang diperkirakan terjadi pada 2 Februari 2026.

“Kombinasi dua fenomena ini secara alami akan meningkatkan ketinggian maksimum pasang air laut. Dampaknya tidak terjadi satu atau dua hari saja, tapi bisa berlangsung cukup panjang, sampai pertengahan Februari,” ujar Frits kepada titastory.id, Jumat (30/1/2026).

Keterangan gambar: BMKG Luncurkan informasi terkait kemungkinan terjadinya banjir pesisir di sejumlah wilayah di Maluku sebagai efek dari fenomena fase Ferige, Foto: BMKG

Wilayah Pesisir Berpotensi Terdampak

Berdasarkan koordinasi BPBD Kota Ambon dengan Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, sejumlah wilayah pesisir di Maluku masuk dalam zona rawan banjir rob. Kawasan tersebut meliputi pesisir Kota Ambon dan Maluku Tengah, pesisir Seram Bagian Timur, serta wilayah kepulauan di bagian selatan Maluku seperti Kepulauan Kei, Aru, dan Tanimbar.
Frits menjelaskan, banjir rob umumnya terjadi tanpa hujan dan dipicu oleh naiknya air laut ke daratan, terutama di wilayah dengan elevasi rendah. Kondisi ini berpotensi merendam jalan pesisir, permukiman warga, serta fasilitas umum yang berada dekat garis pantai.

“Dampak paling nyata biasanya terlihat di kawasan pelabuhan dan pemukiman pesisir. Aktivitas bongkar muat barang, transportasi laut, hingga mobilitas warga bisa terganggu jika pasang mencapai titik maksimum,” jelasnya.

 

Imbauan: Tenang, Tapi Siaga

BPBD Kota Ambon mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan selama periode peringatan berlangsung. Warga pesisir diminta rutin memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG, serta mengantisipasi kemungkinan genangan air laut yang masuk ke lingkungan permukiman.
“Kami minta masyarakat tetap tenang, tapi siaga. Pastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat, amankan barang-barang berharga, dan kurangi aktivitas di pesisir saat pasang tinggi,” kata Frits.
Ia juga mengingatkan nelayan dan pengguna transportasi laut agar lebih berhati-hati, terutama saat sandar di pelabuhan kecil atau dermaga tradisional yang rawan terdampak pasang ekstrem.

 

Pemantauan dan Koordinasi Lapangan

BPBD Kota Ambon memastikan akan terus melakukan pemantauan di titik-titik rawan rob dan berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan, desa, serta aparat terkait. Mekanisme pelaporan cepat juga disiapkan agar respons dapat dilakukan segera jika terjadi genangan atau kondisi darurat di lapangan.
“Jika warga melihat tanda-tanda rob yang membahayakan keselamatan, segera laporkan ke aparat setempat atau BPBD. Kami siaga untuk merespons,” tegas Frits.

Fenomena banjir rob sendiri bukan hal baru bagi wilayah pesisir Maluku. Namun, BPBD mengingatkan bahwa perubahan iklim dan kenaikan muka air laut global berpotensi membuat kejadian serupa semakin sering dan berdampak lebih luas, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir rendah.

error: Content is protected !!