Seram Utara, — Penurunan harga gabah di Kecamatan Seram Utara Timur Kobi dan Seti, Kabupaten Maluku Tengah, memaksa sebagian petani menahan hasil panen mereka. Harga jual di tingkat petani saat ini dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi, bahkan mendekati batas bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Sejumlah petani memilih menyimpan gabah sambil menunggu harga kembali membaik atau hingga penyerapan oleh Bulog berjalan optimal. Situasi ini terjadi di tengah musim panen yang semestinya menjadi momentum pemulihan ekonomi petani.

Harga Turun Dibanding Musim Lalu
Paeran (49), petani padi di Desa Waiputih, Kecamatan Seti, mengatakan harga gabah pada musim panen kali ini turun cukup tajam dibanding periode sebelumnya.
“Biasanya gabah kering giling dibeli Rp7.000 per kilogram. Sekarang paling tinggi Rp6.300, bahkan ada yang Rp6.000. Kalau gabah kering panen hanya Rp5.000 per kilogram,” kata Paeran saat ditemui, Sabtu (17/1/2026).
Ia mengaku telah menahan hasil panennya hampir satu bulan. Biasanya, gabah langsung dijual setelah proses pengeringan. Namun kali ini, ia memilih menunggu.
“Kalau dijual sekarang, tidak menutup biaya. Padahal harga acuan pemerintah tidak turun,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Ari, petani di Desa Waiasih, Kecamatan Kobi. Menurutnya, harga gabah kering giling yang sebelumnya bisa mencapai Rp8.000 per kilogram, kini turun menjadi sekitar Rp6.500.
“Turunnya jauh sekali. Musim lalu kami masih bisa bernapas,” kata Ari sambil mengeringkan gabah di pinggir jalan desa.
Meski demikian, Ari menyebut tidak semua petani bisa menahan panen. Sebagian terpaksa menjual gabah meski harga rendah untuk melunasi utang pupuk, obat tanaman, dan kebutuhan produksi lainnya di kios-kios langganan.
Dibandingkan Harga Acuan Pemerintah
Sebagai pembanding, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional untuk periode 2025–awal 2026 adalah sekitar Rp5.000/kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Rp6.300/kg untuk Gabah Kering Giling (GKG).
Artinya, harga gabah di tingkat petani Seram Utara saat ini berada di ambang atau mendekati batas bawah HPP, bahkan dalam beberapa kasus di bawah harga ideal untuk menutup ongkos produksi.
Perbandingan harga:
- Musim panen 2025
- Seti: GKG ± Rp7.000/kg
- Kobi: GKG hingga Rp8.000/kg
- Musim panen Januari 2026
- Seti: GKG Rp5.000–6.000/kg
- Kobi: GKG ± Rp6.500/kg
- HPP nasional
- GKG: ± Rp6.300/kg
Penurunan ini menjelaskan mengapa sebagian petani memilih menahan gabah, sementara yang lain terpaksa menjual karena tekanan kebutuhan ekonomi.

Bulog Mulai Menyerap
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Gudang Perum Bulog Kompleks Kobi, Akbar Rafsanjani Laisuow, mengatakan penyerapan gabah petani baru dimulai setelah izin resmi dikeluarkan oleh Badan Pangan Nasional.
“Penyerapan gabah baru dibuka sejak 14 Januari 2026. Saat ini masih difokuskan di Kecamatan Kobi, tepatnya di Desa Waimusi,” jelas Akbar.
Menurutnya, penyerapan akan diperluas secara bertahap ke Kecamatan Seti. Bulog, kata dia, berupaya menyerap gabah sesuai HPP sebagai langkah stabilisasi harga.
Bagi petani, kehadiran Bulog di lapangan bukan sekadar soal teknis pembelian, melainkan penentu daya tawar mereka di tengah fluktuasi pasar.
Selama penyerapan belum berjalan merata, petani berada pada posisi dilematis: menahan gabah dengan risiko kualitas menurun, atau menjual cepat demi memenuhi kebutuhan mendesak.
“Kalau Bulog cepat turun, kami tidak perlu tergantung pembeli,” kata Paeran.
Situasi di Seram Utara menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di atas kertas, tetapi oleh seberapa cepat negara hadir di tingkat produksi. Bagi petani, waktu adalah segalanya—karena gabah yang ditahan terlalu lama bisa berubah dari harapan menjadi kerugian baru.
