Maluku Barat Daya, — Senja baru saja turun di Desa Lurang, Kecamatan Wetar Utara, Selasa, 6 Januari 2026. Di kampung kecil yang menghadap laut dan dialiri sungai itu, suara air biasanya menjadi latar keseharian warga. Namun petang itu, aliran sungai berubah menjadi saksi tragedi yang mengguncang satu desa.
James Ricard Makalen, 17 tahun, pamit ke sungai untuk mandi sekitar pukul 18.15 WIT. Dua warga yang berada tak jauh dari lokasi—Dortenci Silimela (43) dan Teroci Maulekik (33)—sedang mencuci pakaian ketika tiba-tiba permukaan air beriak keras. Dalam hitungan detik, seekor buaya muara muncul dan menyeret tubuh James ke dalam air.

“Kami berteriak minta tolong, panggil namanya, tapi semua terjadi sangat cepat,” kata Dortenci, suaranya bergetar ketika menceritakan ulang peristiwa itu. Tidak ada yang sempat dilakukan selain berteriak dan memanggil warga lain. Senja berubah menjadi kepanikan.
Sungai tempat kejadian memang bukan wilayah asing bagi buaya muara. Warga setempat telah lama mengetahui keberadaan predator itu, tetapi sungai tetap menjadi bagian dari hidup sehari-hari: tempat mandi, mencuci, dan mengambil air. Risiko hidup berdampingan dengan alam sering kali diterima sebagai kenyataan yang tak terelakkan.
Pencarian yang Panjang dan Sunyi
Kabar hilangnya James menyebar cepat. Malam itu, Desa Lurang nyaris tak tidur. Tim gabungan yang terdiri dari warga, aparat kepolisian, TNI, dan relawan memulai pencarian sejak malam hari. Senter-senter menyapu permukaan sungai. Doa dipanjatkan di rumah-rumah.
Pencarian berlanjut hingga Rabu, 7 Januari 2026. Upaya diperluas dengan menyisir aliran sungai dari hulu ke hilir. Alat berat dikerahkan untuk membantu pengerukan di beberapa titik yang dicurigai menjadi tempat persembunyian buaya. Harapan masih menggantung, meski semakin tipis.
Menjelang pukul 18.55 WIT, jasad James akhirnya ditemukan tidak jauh dari lokasi awal ia menghilang. Tubuh remaja itu diangkat ke darat dalam keheningan yang pecah oleh tangis keluarga dan warga. Sungai yang sehari-hari menjadi sumber kehidupan kini menyisakan duka.
Keluarga korban memilih menolak proses visum dan meminta agar jenazah segera disemayamkan. Keputusan itu diambil dalam suasana duka mendalam. James dimakamkan pada Kamis, 8 Januari 2026, diiringi pelayat dari berbagai penjuru Wetar Utara.
Predator dan Reaksi Warga
Tak lama setelah jasad korban ditemukan, warga bersama aparat menemukan seekor buaya muara sepanjang sekitar lima meter. Hewan tersebut kemudian dilumpuhkan. Bagi sebagian warga, tindakan itu dipandang sebagai upaya mencegah korban berikutnya. Namun bagi yang lain, peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang rapuhnya garis antara manusia dan alam.
Kapolsek Wetar, IPTU Giovani B. M. Toffy, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Sungai di wilayah ini merupakan habitat buaya muara. Kami mengimbau masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, untuk tidak beraktivitas sendirian di sungai, khususnya saat senja,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa aparat akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meningkatkan sosialisasi keselamatan di wilayah rawan satwa liar. Namun, imbauan semacam itu bukan hal baru bagi warga yang telah lama hidup berdampingan dengan buaya.
Hidup di Antara Risiko
Kasus serangan buaya muara bukan kali pertama terjadi di wilayah Maluku Barat Daya. Perubahan ekosistem, berkurangnya ruang hidup satwa, serta intensitas aktivitas manusia di sungai dan muara kerap disebut sebagai faktor yang meningkatkan risiko konflik manusia–satwa liar.
Bagi warga Desa Lurang, sungai adalah urat nadi kehidupan. Menutup akses sepenuhnya bukan pilihan mudah. Ketergantungan terhadap sungai untuk kebutuhan dasar membuat risiko selalu ada, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Sejumlah warga berharap ada langkah konkret dari pemerintah, seperti pemasangan rambu peringatan, penyediaan fasilitas air bersih alternatif, hingga edukasi keselamatan berbasis komunitas. Tanpa itu, tragedi serupa dikhawatirkan akan terulang.
Duka yang Tertinggal
Kini, rumah keluarga James dipenuhi pelayat yang datang silih berganti. Di dinding, foto-foto masa kecilnya menjadi saksi kenangan yang tak akan kembali. Ia dikenal sebagai remaja yang ramah dan mudah bergaul. Mimpinya terhenti di tepi sungai yang selama ini akrab dengan hidupnya.
Tragedi di Desa Lurang meninggalkan pelajaran pahit: hidup berdampingan dengan alam menuntut kewaspadaan, dukungan negara, dan upaya kolektif untuk melindungi warga—terutama generasi muda—dari risiko yang mengintai.
Sungai itu tetap mengalir seperti biasa. Namun bagi warga Lurang, alirannya kini membawa ingatan tentang seorang remaja yang tak sempat menuntaskan masa mudanya.
