Ambon, — Aliran Sungai Wairuhu di Negeri Hative Kecil, Kecamatan Sirimau, berubah menjadi perangkap sampah. Limbah plastik dan sampah rumah tangga menumpuk di jaring pengaman sungai, memantik kekhawatiran warga akan banjir dan bencana ekologis jika hujan deras datang.
Kondisi ini viral setelah akun Facebook Meno Franiy mengunggah foto-foto sungai yang tersumbat. Dalam unggahannya, ia menyentil kesadaran warga yang masih menjadikan sungai sebagai tempat buangan akhir.
“Kenali diri dari rumah. Kalau sampah keluarga masih dibuang ke kali, jangan salahkan siapa-siapa kalau alam marah dan rumah jadi sasaran amukannya,” tulis Meno, Jumat (awal Januari 2026).

Sampah Kiriman dari Hulu
Sejumlah warga menilai tumpukan sampah di Hative Kecil bukan semata persoalan hilir. Akun Jacob N menyebut kondisi itu sebagai “kiriman” dari permukiman di bagian hulu sungai yang berada di bantaran kali.
Menurut warga, selama perilaku membuang sampah ke sungai dibiarkan, pemasangan jaring hanya akan memindahkan masalah—bukan menyelesaikannya.
“Ini bukan cuma soal bersih-bersih. Ini soal kebiasaan. Kalau orang masih buang sampah ke kali, banjir tinggal tunggu waktu,” tulis Jacob.
Nada serupa disampaikan Bater Telussa, yang mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta menyalahkan pemerintah setiap kali bencana datang.
“Nanti alam balas, baru salahkan pemerintah. Padahal seng sadar diri,” tulisnya, merujuk rendahnya disiplin warga.
Jaring Pengaman Jadi Bom Waktu
Ironisnya, jaring pengaman yang dipasang untuk menahan sampah justru kini dipandang sebagai bom waktu. Tanpa pengangkutan rutin, jaring tersebut berpotensi menyumbat aliran air dan menyebabkan luapan ke permukiman padat di Galala dan Hative Kecil.
Akun Godlief Nanlohy secara terbuka meminta Dinas Persampahan Kota Ambon segera turun tangan.
“Jaring sudah ada, tapi kalau seng diangkat rutin, sama saja. Tolong kerahkan petugas sebelum hujan besar,” tulisnya.
Kekhawatiran warga bukan berlebihan. Sungai-sungai kecil di Ambon kerap menjadi jalur limpasan utama saat hujan ekstrem. Ketika aliran tersumbat plastik, air dengan cepat meluap ke rumah-rumah warga.
Di tengah kemarahan publik, sebuah kisah kecil menjadi pengingat. Tiizsckaa Latupeirissa menulis tentang ayahnya yang tetap setia ikut kerja bakti dan menjalankan tugas sebagai petugas kebersihan, meski kerap melihat upaya itu sia-sia akibat ulah segelintir orang.
Kisah ini menjadi kontras tajam, ada yang bekerja membersihkan, ada yang terus mengotori.
Hingga kini, warga masih menunggu langkah konkret Pemerintah Kota Ambon bukan sekadar respons di media sosial. Mereka menuntut dua hal berjalan bersamaan: penegakan disiplin di wilayah hulu dan pengangkutan sampah rutin di hilir.
Tanpa kolaborasi itu, Sungai Wairuhu akan tetap menjadi cermin buruk tata kelola sampah kota. Dan peringatan warga tentang “amukan alam” bukan lagi metafora melainkan ancaman nyata bagi keselamatan permukiman di sekitarnya.
